Senin, 10 Agustus 2009

menjadi apa pun itu

saat menunggumu….
aku sendiri, aku sepi
nyanyikan lagu yang biasa kita nyanyikan
mengingat saat ku peluk erat tubuh mu

saat menunggumu…
perlahan aku terdiam
tak ada yang dapat memecah kesunyian ini
hanya suara mu yang mampu melakukannya
dengan senyum menawan di hadapanku

saat menunggumu…
lamunanku kau bawa terbang
pada saat kau katakan cinta kepada ku
saat kau sambut hembusan nafasku
ketika kita berputar diatas di atas awan cinta

tak lelah aku menunggumu…
menunggu kau duduk bersamaku kembali
untuk satu kan rasa, layangkan angan
yakinkan aku kau akan datang hanya untuk diriku

di atas kekosongan ini…
kau telah berada didalamnya kini
dengan sempurna kau melakukannya
kau buat aku lebih baik, kau pun demikian
karena kau mendengar teriakan hati ku
walau tak pernah aku ucapkan
karena aku menunggumu
walau aku tahu kau tak akan pernah datang



***





penggalan-penggalan kalimat itu,
tak pernah utuh menjadi satu makna.
kalimat-kalimat itu hanya menjadi dirinya sendiri.
karena bagitu banyak kata yang sama
ada di kalimat-kalimat itu.
tak mungkin kiranya ia bersatu untuk
menjadi yang lain



------------------




“menjadi apa pun itu”


tak penah sedikitpun aku berniat mencintaimu
terlalu sulit bagi ku untuk melakukan hal itu
karena aku telah menjadi udara disetiap
nafas yang kau hirup

untuk berikan seluruh hati untuk mu,
maafkan aku, aku tak mampu
yang aku mampu hanyalah menjadi
dunia bagi hati dan jiwa mu yang hidup
penuh dengan cinta

janganlah kau memintaku untuk selalu bersamamu
karena tak mampu untuk aku temani dirimu setiap waktu
namun tanpa kau sadari hadir ku di hidup mu
telah lampaui batasan ruang dan waktu

tak ingin aku hadir disetiap mimpi indah mu
tak aku inginkan pula, kau rindukan diriku
karena aku telah menjadi apa pun itu
yang ada di dalam dirimu

Jumat, 27 Maret 2009

bagian satu sampai tiga

‘bagian satu’
mengapa kita dapat tetap bersama
saat kita menangis dan tertawa?

apakah ini hal terindah di dunia yang tidak terlihat
mungkin mereka tidak akan pahami

ada hal yang tidak ingin di lepaskankan!
ada hati yang tidak ingin di tinggalkan!

kita temukan seseorang yang sejalan dengan kita
kita bersatu dengannya
dalam satu wadah yang sama

ini adalah awal dari suatu kehidupan yang baru
kebahagian ada untuk kita yang menangis
untuk kita yang telah lama mencari
dan kita akan sangat pahami betapa berharganya
orang yang telah masuk dalam kehidupan kita

cinta yang agung adalah kita menitikan air mata
dan tetap peduli kepadanya
adalah ketika tidak ada lagi kepedulian
dan tetap menunggunya dengan setia
adalah ketika ada prahara
dan tetap tersenym kepadanya

apabila cinta tidak berlanjut, binasalah kita
tak akan ada lagi jiwa yang membentangkan sayapnya
untuk terbang menuju keindahan angkasa

mereka yang kuat bukanlah mereka yang selalu menang
melaikan mereka yang tetap tegar ketika jatuh
sebagaimana kehidupan ini
bahwa penyesalan tidak seharusnya ada
hanya pengharapan atas pilihan yang telah kita buat

mencintai bukanlah bagaimana melupakan dan memaafkan
melaikan bagaimana kita tetap berjalan
bukan hanya bagaimana kamu mendengarkan
melainkan bagaimana kamu mengerti
bukan hanya apa yang kamu lihat
malaikan apa yang kamu rasakan
bukan hanya bagaimana kamu melepaskan
melainkan bagaimana kamu tetap bertahan

lebih berbahaya cucurkan airmata dalam hati
ketimbang menangis tersedu-sedu
airmata yang keluar dapat di hapus
sementara airmata yang tersembunyi goreskan luka
luka yang tidak akan hilang




***



‘Bagian dua’
Buih mimpi kini telah mengembang,
tidak lagi mengendap dalam lembah yang kelam.
Di atas bukit ia bertahta, menguasai alam raya seakan tidak terkalahkan
Harapan ia akan tetap berjaya begitu menguasai jiwa,
bagi jiwa yang terbelunggu jeruji baja.

Dengan mata cekung yang di kelilingi bayang hitam,
dalam ruang yang sempit ia menatap tajam keluar.
Seakan ingin hanguskan semua dengan segera
Namun dengan tubuh yang melengkung ke bumi,
tidak dapat berdiri tegak, apalah dayanya?
Kecuali menggenggam asa dengan jari-jari yang kurus mengepal

Kini tiba waktu untuk bangkit,
tidak lagi tertidur lelap, tidak lagi terbuai,
tidak peduli meski harus terjaga sepanjang malam
Walau dengan goresan tinta diatas kertas
jiwa akan terangkat, melayang ke angkasa
menggapai yang telah mati terkubur keangkuhan diri

Kini tiba waktunya untuk ciumi harum bunga-bunga
Hirup bau tanah yang subur
Melipur rindu dengan riuh burung bernyanyi
Cumbui riak gelombang air sungai
Bermesraan dengan sepoi angin senja
Semua cumbui dengan menyelusuri jiwa yang telah lama mati
Terkubur keakuhan diri

Bersatu dengannya, kagumi kemolekannya
Dan nikmati sisa kesegaran yang telah renta


***


‘bagian tiga’
aku adalah seorang nestapa
tanpa air ditengah sengatan matahari
diatas hamparan gurun yang membakar
sum-sum dalam tulang ku terasa mendidih
tidak ada mahluk hidup di sekelilingku
yang ada hanya setan dan roh iblis
berwajah garang yang siap menyabut nyawa ku.
di balik bayang mereka aku lihat samar-samar
beberapa pohon kaktus dan danau dengan
airnya yang jernih
diatara sela-sela fatamorgana yang menyilaukan
berusaha aku meliahatnya dengan jelas
namun semakin menyiksa ku
antara harapan dan kematian yang menyiksa

aku baringkan badan diatas permadani yang panas menyengat ini
aku pejamkan mata, tak sanggup aku menatap kilatan
sinar matahari yang seakan menyongkel bola mataku keluar

tidak lama berselang aku dengar kepakan sayap dan kicau burung
yang ingatkan aku pada taman bunga nan indah penuh warna
pada hamparan rumput yang hijau
ingatkan aku pada rindangnya pohon
dimana setiap dahannya saling berpelukan
membentuk sebuah terowongan yang teduh
seolah menjaga ku yang tengah tertidur di bawahnya
atau melindungi bunga-bunga itu agar tetap indah mewangi

kian lama aku dengar suara kepakan sayap itu semakin jelas
serentak aku bangun, aku buka mataku
dan ternyata aku masih disini, di atas gurun yang gersang ini
aku lihat dan ternyata itu adalah kepakan burung bangkai
yang telah mengira aku telah mati dan siap menyayat
helai demi helai sisa daging ku yang hanya melekat pada tulang
aku dapat mahami dan mengerti itu dari cara mereka memandangku

aku pun berdoa “perintahkanlah pada malaikat itu untuk segera cabut
nyawa ku, jangan biarkan aku hidup lebih lama lagi, agar mereka
dapat memakan sisa dagingku ini, agar mereka terbebas dari segala
derita lapar yang menyiksa, karena aku mengasihi mereka
sebagai mahluk hidup, layaknya Engkau yang telah mengasihiku

dan seketika itu pula aku pun menghembuskan nafas terakhirku
dengan seulas senyuman aku perhatikan burung-burung itu
penuh lahap menyantap dagingku.

Selasa, 24 Maret 2009

gila sendiri

sekarang bahagia, nanti menangis,
tak lama kemudian bersuka cita
lalu berganti wajah yang masam
atau bahkan menakutkan
tak jarang pula berubah
menjadi seulas senyuman

kadang penuh gelora, kadang curiga,
tak luput pula marah dan dendam
sekali waktu begitu kuat, tak terkalahkan
menjadi yang tertinggi, mulia atau begitu suci
atau bisa juga berganti ketus,
caci maki, dan penuh dosa

tak terlihat, tak bersuara, tak begitu terasa nyata
tak berwujud, tak kasat mata tapi begitu jelas adanya
sangat kuat menguasai, mencengkram kuat
hingga tak dapat berontak

begitu indah untuk dilukiskan
sangat sulit di uraikan
diluar imajinasi
tak terjangkau akan dan pikiran




***




Mereka dapat utarakan kata hati nurani?
dengan manis mereka tiupkan sepoi-sepoi
Apakah semua kebaikan hatinya lenyap?
berharap akan abadi

Selami diri sendiri, temukan sesuatu
dan aku tak tahu mengapa?

Apakah kau mendengar irama sumbang ini?
gunakan telinga mu
Inikah cinta di setiap insan?
Padahal mereka sudah pernah merasakannya!

Dan mereka baru akan memulai,
menyatakan dengan kepedihan
Untuk menjadi satu

Lalu aku daki bukit, berhenti diujung tertinggi
untuk melihat mereka
Dan aku pun tertawa sendiri
air mataku bergulir karena dunia



***



semoga terbuka tudung penghalang mata
tutup pintu agar tidak pernah keluar
terpencil agar selalu di dekatnya
hari ini ia menjadi sahabat dekat
cawan keriangan dan suka cita
semoga diangkat cendera itu
bawalah serta harum rindu itu kemari
kan ku hirup dalam-dalam
dan tidurlah dengan jagaan sayang
karena tidur tidak bersumber pada malam


***




Kau yang semalam bertahta di mimpi rumitku
Beranjak naik ke puncak tertinggi
Berdiri kokoh, kastil di tengah perbukitan nan hijau
Dindingnya di penuhi lumut dan akar merambat
Udara lembab menambah sembab
Angkuh mewalan terpaan waktu yang berlalu
Hanya membuat decak kagum yang kau dapat


Kau yang semalam bertahta dalam mimpi rumitku
Siapa yang peduli akan hal itu
Semua terpesona dan kemudian berlalu
Apakah benar mimpi itu cerminan diri sendiri?

Kau yang semalam bertahta dalam mimpi rumit ku
Adakah kau kini termenu
Berselingkup selimut di sudut

Kau yang semalam bertahta dalam mimpi rumitku
Akan kah kau membawa ku
Karena dunia ini tidak seluas yang ku kira
Terlalu sulit untuk aku bersembunyi
Meski diujungnya sekali pun


***


Diatas secarik kertas, duka berlalu
Malah terlalu terang walau dalam gelap malam

Angin mengecup pusara yang dalam
Dengan mesra luka yang baru tergoreskan
Goresan pena lebih runcing ternyata
Karena berikutnya nestapa tak berkesudahan

Namun langit jugalah yang kekal
Kadang gelap, kadang biru
Dengan diselingi cahaya pastel senja

Mengapa jadi jauh kiranya
Andai seperti langit yang kekal
Menjaga malam dan siang
Menjaga alam dengan tujuh lapisannya


***



Ada sebuah hati yang aku awali dengan sedih
Ada sebuah hati yang aku diami dengan sedih
Di antaranya tidak ada yang ke dua bahkan ke tiga
Prasasti cinta tetap kokoh di atasnya
Walau bahagia dan kepedihan hanya berbeda tipis

Hidupku mengikuti pola yang aneh
Sebab kemana pun aku pergi aku tidak akan kerasan
Hati menjadi penuh dusta dan
Hantu jahat buat ku lelah
Mungkin tidak ku pikirkan apa yang aku suarakan
Dengan sedih ku khayalkan di kepala ku yang lainnya
Namun tetap tidak aku singgahi kemudian

Pada pohon yang berakar dalam
Semua mimpiku tergantung di dahannya
Namun tak selamanya pula tetap tergantung
Terombang-ambing tidak menentu
Bagai bulu diterpa angin, tak ada arah
Tujuan dan kepastian hanya kebimbangan
Ada menggema di pusara jiwa

Akankah prasasti terpahat kembali
Walau aku awali dan aku diami dengan sedih
Karena hanya dengan begitu kan ku raih sejumput
bahagiaan yang senantiasa abadi



***

Senin, 23 Maret 2009

Cipularang

dimusim ini

petir menyala di dada musim hujan ini,
sore semakin remang, aku tahu kau tak akan datang.

kau tak akan mendengar ku,
sebab petir itu menyala tak pernah sampai kepada mu,
saat kau tidak bersama ku,
kebisuan ku tak pernah kau pecahkan,
engkaulah lebah yang menyengat jantung ku,
kemudian hilang perlahan bagai asap rokok.

mungkin air mata tak pernah jatuh di pipi mu,
karena mata mu menampik musim yang akan datang,
walau terkadang serpihan cahaya matahari
jatuh disitu kuncupkan bunga hingga merekah.

mungkin hati mu terlalu dalam dan dingin,
hingga air musim hujan ini tak meresap barang setetes,
walau telah ku bisikan dengan dongeng cerita cinta
sebelum kau tertidur.

dan petir menyambar lagi di dada musim hujan ini,
sore semakin remang, aku pastikan kau tak akan datang.
mungkin ada kisah yang hilang dalam dongeng ku,
atau kah aku lupa menghitung waktu yang telah aku lalui,
- entahlah -

jika kau mendengar petir di langit musim hujan ini bersahut-sahutan,
percayalah bahwa itu adalah suara ku yang geram pada langit,
karena tidak dapat menjumpai mu,
dan apabila kau lihat kilatan cahaya petir di musim hujan ini,
itu adalah usaha ku menemui mu,
yang berada di kegelapan hati ku yang dalam.

- sepanjang april 2009 -




***

kata-kata yang berbeda

Aku rindukan
Saat dimana kita melangkah besama
Mungkin suatu saat nanti
Lebih dari sekedar cinta yang ada
Atau mungkin malah tak pernah terucap
Atau keterpurukan ini
Membuat kita saling menunggu
Menunggu untuk mengulang kembali

Mungkin nanti aku ucapkan kata-kata yang berbeda
Karena aku bertarung dengan seorang yang ku rindu

Mengapa kita tidak saling mengatakan
Mengatakan apa yang kita pikirkan
Untuk mengetahui yang sesungguhnya
Kenyataan yang tidak pernah terucap

-05 Mei 2009-




***

ku akui tak dapat aku pungkiri semua rasa ini
kau telah menjadi kepingan yang merangkai tautan waktu dalam kisah hidup ku
kau yang tidak akan terlupakan untuk ku,
karena kau adalah teman bermain ku

kita yang tanpa terasa hadir dalam satu penyatuan
dimana kita dapat tiupkan keindahan,
yang berasal dari kedalaman hati yang kita punya,
hingga sebuah kesalahan pun tak lagi kentara
bahkan sebuah dosa termanis kita rasakan juga

jangan pernah ada kata maaf darimu
karena maaf tidak diperlukan untuk kita
yang kita perlukan hanyalah menikmati sisa waktu ini,
waktu yang semakin menghimpit kita
untuk benar-benar terpisahkan,
selamanya...



***

setiap kali cahaya bulan turun ke bumi
dari lubuk hati aku berbisik:
“berapa lama lagi aku harus menunggu?
sekedar untuk luluhkan rindu!”

tidak ada yang berucap untuk menjawab
tak ada yang beri tanda atau isarat
jangan katakan ini hanya lelucon
“ini bukan omong kosong!!!”

ia menjadi air bening di tanah lempung dan
benih akan setia, dimana pun ia berada
agar tersisih segala cemas
jika sekiranya hati akan tegar
tidak juga sedih karena tindakan lawan

apalah arti bulan dan bintang di gelap malam?
tidak akan berarti apa-apa!
karena bayangan angan,
cahaya mata sudah menambah terang

‘betapa kerinduan ini menelungkupi hati dan hari ku!’


***


cinta pun menghampar seperti pasir
luas menembus batas pelabuhan nurani
sekejap pun tidak dapat disentuh oleh biduk kebencian

diriku bimbang dalam ombak kerinduan
dimakah jangkar harapan itu di tambatkan
sementara lautan waktu begitu luas di hadapan ku

kehidupan menjadi aneh karenanya
tenggelam dalam wujud penantian yang melelahkan

rindu pun menggulung menjadi ombak
yang kemudian pecah menjadi gelombang
sirna perlahan tanpa berkesudahan



***


‘jika sekiranya’

jika sekiranya
kau tidak merasa kan yang lain
kecuali kejengkelan atau tidak apa pun
jika sekiranya
hari penantian sudah dekat
datang terurut satu persatu kepada mu
jika sekiranya
maut telah bertahta atas pikiran mu
tanpa kebahagian beserta di sampingmu

aku minta
bersama mu di atas bangku
di bawah pohon cemara
di tempat dan waktu yang sama
seperti biasa kita bersama
aku minta kepada mu
kamu bawa foto-foto kita bersama
untuk ceritakan kembali
kenangan yang tersimpan
aku minta kepada mu
sempatkan untuk kembali
ketempat dimana biasa kita
habiskan waktu bersama

jika sekiranya aku meminta kepada mu



***


dalam dingin dan hujan ini
kurindukan engkau, cintaku
dalam hati yang tulus
cinta menyandarinya
kerinduan yang menjulang
betapa indahnya ini
cantik dan penuh pesona
anggun dan lembut jadi satu

aku tak kuasa lagi
aku tak terkendali
terayun-ayun
tak mampu kuasai hati

bilakah semua ini akan berhenti
selimuti hati yang telah terpatri
oleh cinta yang tak terganti



***


ketika cinta datang tertawan si jantung mutiara
dia biarkan hatiku berkobar dan bersorak sorai
dalam lengang yang maha aku tidak dapat duduk tenang
hingga hasrat cinta datang mengetuk gerbang

pohon segala suka cita telah tanamkan akar cinta dalam hati
apa pun yang aku miliki bercahaya kini
mereka berkata :
‘hati yang riang adalah kembang suasana yang berkilauaan’


***


menemuimu adalah satu-satunya hasratku
memahamimu jauh dari jangkauan ku
mengingatmu adalah hiburan ku, bagi hatiku yang gelisah
mmbayangkan mu adalah teman setia ku
aku sebut nama mu berulang-ulang, siang dan malam
nyala cinta mu terangi gelap malam ku

Senin, 09 Maret 2009

gazebo

Kusaksikan jalan lengang ini
dihiasi lampu remaram yang saling berjauhan
di tengah malam, di bawah rintik hujan
sindiri aku tapaki jalan ini.
Gemerecak genangan air meriak,
kala aku tapakan kaki di atasnya
bagai suara kesedihan yang tidak berkesudahan
Tapi tidak untuk ku, ku dengar itu
bagai irama yang senandungkan harapan dan semangat
untuk aku laluinya dan juga membuat sirna rasa takut ku
akan bayang-bayang hantu dari balik cahaya redup lampu itu

dibawah rintik hujan ini, sendiri aku tapaki jalan ini
meski sunyi, tapi tidak dalam diriku
sangatlah ramai senandung merdu yang antri untuk naik kepermukaan
yang ingatkan aku akan dirimu
namun tidak satu pun yang berhasil
karena bibir ini hanya dapat ucapkan nama mu
bayang dirimu yang hantarkan aku tapaki jalan ini
hingga tanpa aku sadari, aku telah samapai pada pintu
dimana aku dapat mengetuk pintu hatimu
dengan segenap cintaku


***



Disaaat seulas senyum dari bibirmu terlukis
tak ada lagi dari dunia ini yang dapat melebihi keindahannya
lebih mesra dari hembusan angin yang gugurkan bunga kertas
kelopaknya yang melayang manja, membelai
mempesonakan mata

di malam yang indah nan syahdu ini
meski jauh, kita tetap berpadu dalam satu rasa rindu
seketika bagahia tercipta
luas bentangi tingginya cakrawala hingga kau
terasa kau begitu dekat dihadapan mata

biar ku peluk erat diri mu,
agar badai kehampaan ini tidak lagi datang
dan hujan pun segera reda

biar cintamu ku peluk erat, agar kehampaan malam ini sirna
terseret warna-warni pelangi yang hiasi dinding hati



***


Jika bunga dapat diartikan sebagai sesuatu yang menyenangkan,
maka terimalah bunga ini…
Karena mungkin dapat menenangkan hati mu yang gundah
Maka terimalah bunga ini sebagai sesuatu yang dapat jadikan indah hati mu
Karena sesungguhnya di dalam dirimu tidak ada lagi keburukan
Tak ada apa pun yang dapat merusak keindahan mu.

Jika bunga dapat diartikan sebagai sesuatu yang tulus dan suci,
maka terimalah bunga ini…
sebagai ungkapan maaf ku pada mu yang tulus menjelma dari dalam hati ku
maka terimalah bunga ini sebagai tanda kesucian hatimu untuk memafaakan ku

Jika bunga dapat diartikan sebagai sesuatu yang penuh kasih dan sayang
maka terimalah bunga ini…
sebagai ungkapan sayangmu kepada ku
sebagai tanda cinta mu kepada ku



***




Diseluruh ngarai tergerai rambut kabutmu
Air telah meresap kecelah tanah
Tumbuhkan rerumputan

Gaung fana dari tanah kerontang tak lagi terdengar

Ketika tubuh gaib mu jauh dari jangkauan
Denyut waktu kuncupkan nyeri
Menggelinjang dalam tubuh
Selimuti darah gairah
Mengendap di dasar nadi

Angin kerinduan akan segera tiba
Menghamburkan derai-derai derita di pundak ku
Tangan ini peluk erat tubuhmu
Peluk cium gugurkan helai-helai ruang gelapku




***




Gelap malam yang kini kian membisu
Temani keheningan malamku
Air mata berderai kala ku kenang dirimu

Dalam sepoi malam kau yang ku rindu
Aku kasih menggali-gali nurani
Adakan menyatuan kita di esok hari

Hingga cicit perkutut gemeracak
Bangunkan daun dan ranting pohon
Hingga mentari lambaikan senyuman
Namun tetap
Rinduku tak terganti
Gundahku tetap tidak tergali



***



Hatiku berbisik :
“keindahan adalah apa yang menarik di jiwa,
Kepadanya cinta di beri tanpa pernah meminta”




***



Kata-kata bermimpi tentang mimpi mereka sendiri
lebih cantik, lebih berwarna
sementara kita kusut tergesa di buru waktu
dalam udara bergolak cemar dan berdebu

Dirumah, kelas dan cafe yang sesak
aku menghirup wangi kata-kata, hanya sejenak
tentang cinta, kehidupan, caci maki dan lelucon cabul
seakan kata-kata terbuhun dan hancur di daun telinga

Pada saat kita lolos dari sini
dimana kita dapat tertawa dan bercinta
ditengah kata-kata yang tengah asik bermimpi
barulah kita sadari kalau semua itu tidaklah berarti

Senin, 02 Maret 2009

sampah

Ketika jiwaku melangkah di atas bukit-bukit mimpi indah mu
Jubah agung beraneka warna segera selimuti aku
Hingga mata dan telingaku melihat dan mendengar
Hingga hatiku memahami apa yang ada di dalamnya
Ketulusan, kedalam hatimu yang tiada berbatas
Kejernihan pancaran cahaya cintamu mengalir mesra
Lalu aku rangkul dirimu pada suatu ketulusan yang belum aku ketahui
Mimpi indah mu



***



Cintamu dalam hati
Menjadi segala sesuatu
Yang ku lihat di situ
Layak cahaya matahari
Sinarnya menerang
Memenuhinya dengan begitu
Cintamu dalam hatiku
Meski malam tak benderang
Gelap buta tidak lagi suram
Hati yang muram tak lagi kentara
Cintamu dalam hati ku
Memenuhinya dengan begitu


***



Sejak setahun kemarin, sampai besok lusa
Atau hingga tak berbatas waktu
Diri ini akan tetap tertuju untukmu yang terkasih

Semua yang tercipta dan tertuju hanya karena
yang terkasih selalu

Dan seperti saat ini
Ketika hati tergerak untuk menuliskan
sederet kata-kata indah, kata-kata yang goreskan
warna kelembutan di setiap hari mu
sederet kata-kata yang akan terpahat dalam
relung hati mu

Dan seperti saat ini
Ketika jiwa tergerak untuk mempesonakan angan
bayang-bayangmulah yang senantiasa
terlukis di pelupuk mata, rasuki pesona dalam setiap mimpi ku

Dan disetiap diri ini tergerak untuk entah apa pun itu
Hanya kepada yang terkasihlah semua tertuju
Entah…….




***



Setelah sekian lama, engkau hati ini begitu bercahaya
Bagai kilau embun pagi yang menari di atas dedaunan
dengan mesra sambut hangatnya surya

Engkaulah satu-satunya
Begitu lembut belai kabut asmara dalam jiwaku
Hingga tak ada lagi hampa
Jiwaku kini telah miliki sayap cinta
Yang membawaku ke dalam pelukan mesra tubuhmu

Cukuplah bagi ku cinta dari mu
Kesegaran bunga-bunga rindu yang kau pupuk sangatlah nikmat
Tak dapat aku tumbuhkan bunga yang lain





***



‘sesuatu yang tertuju untuk mu’

Setelah kau baca sesuatu yang tertuju untukmu
seketika itu pula ada yang lain aku rasakan
begitu kuat kuasai hati ini, hingga aku tak dapat
kuasai diri untuk segera menangis

Ada banyak yang seperti aku disekeliling mu
Aku dan mereka sama, tertuju kepada mu

Sudahlah semuanya aku cukupkan pada kata ‘percaya’
aku percaya kau tetap terjaga untuk ku
karena segala perubahan atas dirimu akan aku alami pula

Dan aku percaya, akulah satu-satunya
kekasih di dalam hati mu,

Aku harap kamu tidak salah mengerti akan maksud ku
karena setelah kau baca sesuatu yang tertuju untuk mu itu
semakin mebuatku sadar, tidak ingin aku kehilangan mu
dan semakin meyakinkan aku betapa aku menyayangimu




***


Jika cinta yang ku berikan pada mu hilang dan membuat mu lama menangis
Itu adalah salah ku, sungguh kesalahan ku
Aku inginkan kita tetap bersama dalam iringi waktu, walau saat kemarahan kuasai kita

Jika cinta yang aku berikan untuk mu hilang dan memnuat hati mu lama menagis
Itu adalah salah ku, sungguh kesalahan ku
Kenanglah saat kita merengkuh tawa bersama di malam yang membahagiakan
Karena itu takan tergantikan dalam ingatan



***


aku pun kini saksikan tebaran bintang diangkasa
dalam bening matamu
seakan hanya mimpi,
bersama mu semua berubah jadi nyata

bantu aku agar dapat rimbunkan
jauh di antara langit dan bumi

hati yang pilu tak akan pernah ada
dengan kasih mu kita bersama
bawa jiwa menari, berlari
lintasi bukit hijau jingga
di puncak hari-hari yang indah

di sisi dunia yang ku pijak
adanya bayang mu selalu
iringi langkah ku selalu




***



Kau telah penuhi ruang dalam kamar ini
Seperti kau penuhi hatiku dengan cintamu
Meski lampu itu telah aku padam kan
Namun aku tetap melihat wajah mu
Bagai berkas cahaya bintang
Yang menembus kaca jendela
Menelusuri kehampaan jiwa

pemabuk

telah hidup aku dalam jernih cinta mu
kau lah awal dan akhir bagi ku
karena aku adalah ikan yang tidak mungkin hidup tanpa air
seperrti dirimu, tempat hidup ku

dalam jernih mu aku bersuka cita
dalam ombak mu aku bermain
suara mu buat aku berdendang
dalam liuk arus mu aku menari-nari

tapi kini kau keruh
karena mereka inginkan kita berpisah
di masukannya prahara dalam jernih mu
mereka telah dapatkan aku
aku tersiksa, karena jauh dari mu
jiwaku tergelepar, terkoyak-koyak
tak sanggup aku hidup tanpa mu

aku kuat kan diri dengan menelan tetes air mu yang tersisa
sungguh itu sangat menyiksa
cinta buat aku bertahan dan terus bertahan
ajari aku nikmati tetes demi tetes air mu
yang kini hanya ada dalam kalbu ku

harapan itu tumbuh kembali
walau hanya melihatmu dari kejauhan
walau hanya mendengar kabar burung
walau hanya senyuman yang di lipur duka yang ku lihat

dan kini kau telah kembali jernih
karena segala prahara telah kau endapkan
dalam dasar kalbu mu yang tidak berbatas

aku harus kembali hidup
terus berjuang agar dapat kembali bersuka cita
bermain-main dan menari dalam jernih cinta mu
karena kau adalah tempat hidup ku yang terakhir



***


jangan kau laknati aku karena ulah ku
tapi kutuklah aku karena mabuk akan anggur mu
caci makilah aku yang tela mencintaimu
jangan kau cerca cinta ini
karena cinta ini tersaji tulus untuk mu


***



‘cawan kosong’

Aku adalah cawan kosong yang siap menerima anggur mu
Segala sari pati jiwa mu, tuangkanlah kedalamnya
Aku adalah seorang pemegang cawan kosong
Seperti halnya jiwa dan hati ku, kosong

Aku datangi mereka, namun sia-sia
Karena mereka tuangkan anggur dengan melihat ku
Tanpa menoleh kearah cawan ku

Saat aku datang pada mu, aku pasrah
Yang ada hanya harap penuh gelisah
‘akankah kamu sama seperti mereka yang tersia-siakan?’

Namun ternyata kau telah buka mata dan hati mu
Kau telah mengisi cawan ku yang kosong
Dengan anggur yang penuh nikmat
Dan kini biarkanlah aku mabuk akan anggurmu




***



aku bukan kamu; kalian dan mereka semua
aku tidak mau jadi seperti kalian
sungguh aku dan kalian semua adalah satu
aku bahagia dan kamu juga; sama seperti kalian
namun kamu dan mereka anggap aku tidak
ya, karena kita sesungguhnya berbeda
bahkan jauh berbeda



***


Malam ini saat kesunyian, saat cinta diterpa prahara
Aku terdiam, tidak tahu harus berbuat apa
Namun angan ku melayang, pergi kesuatu tempat yang asing bagi ku
Tempat dimana penuh dengan rahasia kehidupan

Karena cinta bukanlah rasa sayang, kasih yang tumbuh dalam hati
Karena cinta bukanlah sumber dari kesenangan, pengharapan dan peraduan

Pahit getirnya cinta harus pula kau rasakan
Hanya dengan begitu kau akan mabuk
Mabuk akan cinta
Karena cinta yang dibasuh dengan air mata
Akan senantiasa abadi selamanya



***


Sayap-sayap yang patah karena aku
Maafkan aku…
Setelah aku tahu benih ku tidak akan tumbuh
Aku pun meninggalkan mu
Maafkanlah aku…
Meski pun kau tumbuhkan bunga nan indah
dan wangi menggoda
Aku tidak akan mabuk karenanya
Maka maafkanlah aku…



***


Bersinarlah terus dalam kejujuran hati
Menarilah bersama bintang-bintang
Hingga gelap malam tidak lagi kentara

Tidak hanya mata yang dapat melihat
Tidak hanya telinga yang dapat mendengar
Tidak hanya mulut yang dapat bicara

Walau tidak besayap, tetaplah pada ketinggian angkasa
Jangan biarkan kesadaran diri ini kembali tapaki bumi
Tetaplah arungi empat jalan tujuan ini



***


Percintaan itu layak nya teka-teki
Kadang mudah terjawab dan mampu aku menghadapinya
Bila tidak, layaknya batu loncatan
Yang mungkin sulit untuk dilalui

Orang bilang cinta laksana api yang berkobar
Membakar hati yang tidak disangka
Lebih menyengat dari sengatan lebah
Bahkan ia dapat bangkitkan jiwa yang telah mati terkubur

he..he...he....he....

‘dua cinta’

aku cinta kepada mu dengan dua cinta
cinta kepada diriku dan cinta kerena dirimu
cinta karena memang dirimu layak di cinta
cinta kerena keadaan ku senantiasa mengingatmu
baik untuk ini, baik untuk itu
pujian bukanlah bagi ku
engkaulah pujian kesemuanya


-----------------------------------------------------------------------------------



jangan pergi!!!
kembalilah…..
dengan semua kesengsaran mu
oh, kembalilah….!!
semua linangan air mata ku tercurah hanya kepada mu
bara terakhir dalam hati ku menyala hanya untuk mu
oh kembalilah engkau derita ku!!
kebahagiaan terakhir ku!!





--------------------------------------------------------------------------------------------




dimanakah kau berada duhai kekasihku?
adalah kau selalu bahagia dengan hamparan bunga di taman?
akan kah engkau dapat mencium harumnya atau memetiknya?
ataukah bunga-bunga itu telah menjadi hantu kegelisahaan
yang menakutkan dalam ingatan mu?
dimanakah kau berada duhai pujaan hati ku?
akankah kau berada dalam peraduaan mu,
dimana jiwamu bersarang setelah lelah kepakan sayap kehidupan?
akankah kau nyanyikan lagu rindu di hati mu yang sarat dengan cinta?
dimanakah kau berada wahai pesona jiwaku?
akankah kau sedang nikmati pesona cinta bersama para penyair?
atau kah engkau bersama mereka yang tersungkur dalam kehidupan yang fana?
adakah engkau terbuai oleh kisah cinta yang satu kan hati kita?
dimanakah engkau duhai separuh jiwaku yang terpisah?
adakah jiwa mu terbelenggu, tak dapat mendengar jeritan hati?
tak mampu lagi menahan nyeri di hati?
ataukah engkau sedang dengarkan bisikan hati yang pilu karena kerinduan ini?




--------------------------------------------------------------------------------------------------




‘tak ada lagi yang mengalir’

keindahan mu, terpancar menembus raga
tumbuhkan cinta di hati yang butakan mata
hingga aku terlena dalam buaian mimpi indah
ketika ku sadar, kau hanya sisakan kepedihan dan duka lara,
kau tinggalkan semua inpian yang telah selimuti jiwa

mengapa kau buat hati ini terlena dalam beribu hamba?
ku jadikan dirimu sekuntum mawar dalam hati ku
merelakan tangan ku penuh luka
karena memetiku mu yang penuh duri
seharusnya kau layu setelah tak ada lagi darah yang mengalir dari tangan ku



--------------------------------------------------------------------------------------------




Kau lah satu-satunya yang ku pilih di dunia ini
Beri tahu semua, agar bahagia pula
Impian dan harapan terukir melukis angan
Ketika kau datang, kau lah cinta ku selamanya


-----------------------------------------------------------------------



Kau adalah surga bagi khayal ku
lupakan segala derita dan suka cita
yang tersisa hanyalah harapan semata

Aku tetap terjaga dalam mimpi indah ku
antara sadar dan tidak terbawa nikmatnya
lamunan cinta

Menderitalah aku dalam kesukacitaan
penderitaan ada karena aku ada
kebahagian ada karena aku pula

jangan kau cari makna dari kata-kata ku ini
ini adalah bualan omong kosong dari si pemabuk cinta

-----------------------------------------------------------------------------------


Jika sekiranya kau bahagia atas keadaan ku saat ini?
malam bawalah dingin mu, selimuti jiwa yang terbakar ini
bulan pancarkan ceriamu, agar tidak lagi muram wajah ini
Jika sekiranya kau bahagia atas keadaan ku saat ini?



---------------------------------------------------------------------------------------------



Sentuhan jemarimu ku rasakan itu sebagai lembut hatimu
yang telah disucikan cinta,
Kata-kata yang keluar dari bibir mu, ku jadi itu sebagai
lantunan merdu dari surga,
Setiap kau peluk aku dengan eratnya, aku jadikan itu sebagai
pelukan dewi cinta yang hangatkan raga,
Disaat kau genggam jemariku, aku jadikan itu sebagai penuntun hati ku
saat cinta di dera prahara,
Disaat kau berada disampingku, kan ku jadikan itu anyaman cerita cinta
yang panjang, yang kan ku sulam dengan benang sutra mimpi indah kita berdua,
Disaat kau tatap mata ini, ku rasakan sebagai sebuah misteri cinta yang tak terungkap,
atau sesuatu yang telah sucikan aku hingga anugrah yang tak terkira ini dapat ku rengkuh.

Kamis, 26 Februari 2009

brengsek (26-02-2009)

Hati ku berbisik bertanya: “apakah yang terjadi?
Sepoi angin menjawab lembut: “itu adalah cinta”
“apakah kau cemburu?” tanya hati ku pada bulan
“jika aku cemburu, takkan ku sampaikan salam rindu mu padanya” jawab bulan
“apakah ini hanya mimpi semata?” ucap hatiku
Air menjawab: “siramilah ia dengan kasih dan sayang mu tanpa jemu”
“apakah cinta ini akan tetap abadi adanya?” tanya hatiku pada malam
“jika senantiasa demikian, ia akan selalu hidup dalam hatimu” jawab sang malam

-----------------------------------------------------------------


{ laron dan lilin }

Lilin : ‘untuk apa kau mendekat wahai laron?’
Laron : ‘karena cintaku hidup hanya dengan mu’
Lilin : ‘jangan kau dekati aku karena kau akan terbakar oleh api ku!’
Laron : ‘jangan kau hiraukan aku, biarkan aku hidup dengan cintaku sendiri’
Lilin : ‘cinta yang kau miliki tidak akan hidup karena kau akan hangus terbakar’
Laron : ‘bagaimana dengan dirimu sendiri? Bukankah kau pun akan padam dan
binasah karena api mu itu, bahkan asap yang kau keluarkan pun akan
meninggalkanmu’
Lilin : ‘karena itu memang sudah takdir ku’
Laron : ‘dan memang sudah takdir aku pula harus hangus terbakar karena mencintai mu’
Lilin dan Laron : ‘dan kita pun akan hidup bersama api cinta kita’


25/02/09




---------------------------------------------------------------------------


Cahaya kebenaran telah nampak
Aku buka mata
Kabar kemenangan telah terdengar
Aku buka telinga

Biarkan! Suara penyeru-Mu riuh menembus mega
Takbir menggema di angkasa penyejuk sukma

Jiwa yang merintih akan dosa
Tubuh yang tersiksa akan cobaan
Tamatlah segera

Basuh aku dengan rahmat-Mu
Rukuk dan sujud aku bersimpuh mohon ampunan-Mu
Bawa aku dalam pangkuan-Mu dengan penuh kasih dan sayang-Mu


23/06/02



---------------------------------------------------------------------------

‘prasasti hati’

Maafkan aku duhai kekasihku
Aku masih punya rindu kepada mu
Aku masih menyayangi mu
Masih aku miliki cinta kepada mu

Aku tak dapat tinggalkan itu semua
Biarkan rasa iru tetap ada
Karena hanya itu yang aku punya
Jangan pernah katakan itu akan menyiksaku

Maafkan aku duhai kekasih ku
Kau tak lagi menjadi milik ku
Walau cinta ku tak akan pernah berubah
Karena cinta untuk mu telah menjadi prasasti
Jauh di dalam lubuk hati ku


-------------------------------------------------------------------------

‘teman bermain’

biarkan dirimu menjadi teman bermain bagi hati ku yang tergila-gila
datanglah padaku, katakan cinta hanya untuk ku
dengan merdu suara mu, dengan lembut bibir mu
karena aku tak mampu katakan itu kepada mu, wahai teman bermain ku

kau yang berkuasa atas hati ini, bawalah aku bersama mu
raih aku dengan erat peluk mu
agar kau rasakan yang belum pernah kamu rasakan
dari ku, dan hanya aku yang mampu
untuk menjadi teman bermain mu



---------------------------------------------------------
‘dalam bingkai indah’
Telah lama aku mencintai mu
Keindahan yang telah lama, namun selalu baru

Apa pun yang ku rasakan tidak ada yang membuat ku pilu
Apa pun yang ku lihat menjadi sumber keindahan

Cahaya pembasuh seluruh cemas ku talah banjiri hati ku
Semua bayang-bayang keraguan serta merta menjadi sirna

Di relung hati yang terdalam aku terpesoana
dalam bingkai indah yang kau buat untuk ku

--------------------------------------------------------------


saat aku katakan sesuatu, mereka tertawa terbahak
seraya memandangi mereka aku membatin
“sungguh bodoh aku ini, bicarakan hal ini kepada mereka.
kau yang tertawa karena kau tidak mengerti yang ku rasa,
tidak pahami yang ku kata,
jika kau buka mata dan telinga, kau tidak akan tertawa”
lalu bersama mereka,
aku pun ikut tertawa