Selasa, 24 Maret 2009

gila sendiri

sekarang bahagia, nanti menangis,
tak lama kemudian bersuka cita
lalu berganti wajah yang masam
atau bahkan menakutkan
tak jarang pula berubah
menjadi seulas senyuman

kadang penuh gelora, kadang curiga,
tak luput pula marah dan dendam
sekali waktu begitu kuat, tak terkalahkan
menjadi yang tertinggi, mulia atau begitu suci
atau bisa juga berganti ketus,
caci maki, dan penuh dosa

tak terlihat, tak bersuara, tak begitu terasa nyata
tak berwujud, tak kasat mata tapi begitu jelas adanya
sangat kuat menguasai, mencengkram kuat
hingga tak dapat berontak

begitu indah untuk dilukiskan
sangat sulit di uraikan
diluar imajinasi
tak terjangkau akan dan pikiran




***




Mereka dapat utarakan kata hati nurani?
dengan manis mereka tiupkan sepoi-sepoi
Apakah semua kebaikan hatinya lenyap?
berharap akan abadi

Selami diri sendiri, temukan sesuatu
dan aku tak tahu mengapa?

Apakah kau mendengar irama sumbang ini?
gunakan telinga mu
Inikah cinta di setiap insan?
Padahal mereka sudah pernah merasakannya!

Dan mereka baru akan memulai,
menyatakan dengan kepedihan
Untuk menjadi satu

Lalu aku daki bukit, berhenti diujung tertinggi
untuk melihat mereka
Dan aku pun tertawa sendiri
air mataku bergulir karena dunia



***



semoga terbuka tudung penghalang mata
tutup pintu agar tidak pernah keluar
terpencil agar selalu di dekatnya
hari ini ia menjadi sahabat dekat
cawan keriangan dan suka cita
semoga diangkat cendera itu
bawalah serta harum rindu itu kemari
kan ku hirup dalam-dalam
dan tidurlah dengan jagaan sayang
karena tidur tidak bersumber pada malam


***




Kau yang semalam bertahta di mimpi rumitku
Beranjak naik ke puncak tertinggi
Berdiri kokoh, kastil di tengah perbukitan nan hijau
Dindingnya di penuhi lumut dan akar merambat
Udara lembab menambah sembab
Angkuh mewalan terpaan waktu yang berlalu
Hanya membuat decak kagum yang kau dapat


Kau yang semalam bertahta dalam mimpi rumitku
Siapa yang peduli akan hal itu
Semua terpesona dan kemudian berlalu
Apakah benar mimpi itu cerminan diri sendiri?

Kau yang semalam bertahta dalam mimpi rumit ku
Adakah kau kini termenu
Berselingkup selimut di sudut

Kau yang semalam bertahta dalam mimpi rumitku
Akan kah kau membawa ku
Karena dunia ini tidak seluas yang ku kira
Terlalu sulit untuk aku bersembunyi
Meski diujungnya sekali pun


***


Diatas secarik kertas, duka berlalu
Malah terlalu terang walau dalam gelap malam

Angin mengecup pusara yang dalam
Dengan mesra luka yang baru tergoreskan
Goresan pena lebih runcing ternyata
Karena berikutnya nestapa tak berkesudahan

Namun langit jugalah yang kekal
Kadang gelap, kadang biru
Dengan diselingi cahaya pastel senja

Mengapa jadi jauh kiranya
Andai seperti langit yang kekal
Menjaga malam dan siang
Menjaga alam dengan tujuh lapisannya


***



Ada sebuah hati yang aku awali dengan sedih
Ada sebuah hati yang aku diami dengan sedih
Di antaranya tidak ada yang ke dua bahkan ke tiga
Prasasti cinta tetap kokoh di atasnya
Walau bahagia dan kepedihan hanya berbeda tipis

Hidupku mengikuti pola yang aneh
Sebab kemana pun aku pergi aku tidak akan kerasan
Hati menjadi penuh dusta dan
Hantu jahat buat ku lelah
Mungkin tidak ku pikirkan apa yang aku suarakan
Dengan sedih ku khayalkan di kepala ku yang lainnya
Namun tetap tidak aku singgahi kemudian

Pada pohon yang berakar dalam
Semua mimpiku tergantung di dahannya
Namun tak selamanya pula tetap tergantung
Terombang-ambing tidak menentu
Bagai bulu diterpa angin, tak ada arah
Tujuan dan kepastian hanya kebimbangan
Ada menggema di pusara jiwa

Akankah prasasti terpahat kembali
Walau aku awali dan aku diami dengan sedih
Karena hanya dengan begitu kan ku raih sejumput
bahagiaan yang senantiasa abadi



***

Tidak ada komentar: