Jumat, 27 Maret 2009

bagian satu sampai tiga

‘bagian satu’
mengapa kita dapat tetap bersama
saat kita menangis dan tertawa?

apakah ini hal terindah di dunia yang tidak terlihat
mungkin mereka tidak akan pahami

ada hal yang tidak ingin di lepaskankan!
ada hati yang tidak ingin di tinggalkan!

kita temukan seseorang yang sejalan dengan kita
kita bersatu dengannya
dalam satu wadah yang sama

ini adalah awal dari suatu kehidupan yang baru
kebahagian ada untuk kita yang menangis
untuk kita yang telah lama mencari
dan kita akan sangat pahami betapa berharganya
orang yang telah masuk dalam kehidupan kita

cinta yang agung adalah kita menitikan air mata
dan tetap peduli kepadanya
adalah ketika tidak ada lagi kepedulian
dan tetap menunggunya dengan setia
adalah ketika ada prahara
dan tetap tersenym kepadanya

apabila cinta tidak berlanjut, binasalah kita
tak akan ada lagi jiwa yang membentangkan sayapnya
untuk terbang menuju keindahan angkasa

mereka yang kuat bukanlah mereka yang selalu menang
melaikan mereka yang tetap tegar ketika jatuh
sebagaimana kehidupan ini
bahwa penyesalan tidak seharusnya ada
hanya pengharapan atas pilihan yang telah kita buat

mencintai bukanlah bagaimana melupakan dan memaafkan
melaikan bagaimana kita tetap berjalan
bukan hanya bagaimana kamu mendengarkan
melainkan bagaimana kamu mengerti
bukan hanya apa yang kamu lihat
malaikan apa yang kamu rasakan
bukan hanya bagaimana kamu melepaskan
melainkan bagaimana kamu tetap bertahan

lebih berbahaya cucurkan airmata dalam hati
ketimbang menangis tersedu-sedu
airmata yang keluar dapat di hapus
sementara airmata yang tersembunyi goreskan luka
luka yang tidak akan hilang




***



‘Bagian dua’
Buih mimpi kini telah mengembang,
tidak lagi mengendap dalam lembah yang kelam.
Di atas bukit ia bertahta, menguasai alam raya seakan tidak terkalahkan
Harapan ia akan tetap berjaya begitu menguasai jiwa,
bagi jiwa yang terbelunggu jeruji baja.

Dengan mata cekung yang di kelilingi bayang hitam,
dalam ruang yang sempit ia menatap tajam keluar.
Seakan ingin hanguskan semua dengan segera
Namun dengan tubuh yang melengkung ke bumi,
tidak dapat berdiri tegak, apalah dayanya?
Kecuali menggenggam asa dengan jari-jari yang kurus mengepal

Kini tiba waktu untuk bangkit,
tidak lagi tertidur lelap, tidak lagi terbuai,
tidak peduli meski harus terjaga sepanjang malam
Walau dengan goresan tinta diatas kertas
jiwa akan terangkat, melayang ke angkasa
menggapai yang telah mati terkubur keangkuhan diri

Kini tiba waktunya untuk ciumi harum bunga-bunga
Hirup bau tanah yang subur
Melipur rindu dengan riuh burung bernyanyi
Cumbui riak gelombang air sungai
Bermesraan dengan sepoi angin senja
Semua cumbui dengan menyelusuri jiwa yang telah lama mati
Terkubur keakuhan diri

Bersatu dengannya, kagumi kemolekannya
Dan nikmati sisa kesegaran yang telah renta


***


‘bagian tiga’
aku adalah seorang nestapa
tanpa air ditengah sengatan matahari
diatas hamparan gurun yang membakar
sum-sum dalam tulang ku terasa mendidih
tidak ada mahluk hidup di sekelilingku
yang ada hanya setan dan roh iblis
berwajah garang yang siap menyabut nyawa ku.
di balik bayang mereka aku lihat samar-samar
beberapa pohon kaktus dan danau dengan
airnya yang jernih
diatara sela-sela fatamorgana yang menyilaukan
berusaha aku meliahatnya dengan jelas
namun semakin menyiksa ku
antara harapan dan kematian yang menyiksa

aku baringkan badan diatas permadani yang panas menyengat ini
aku pejamkan mata, tak sanggup aku menatap kilatan
sinar matahari yang seakan menyongkel bola mataku keluar

tidak lama berselang aku dengar kepakan sayap dan kicau burung
yang ingatkan aku pada taman bunga nan indah penuh warna
pada hamparan rumput yang hijau
ingatkan aku pada rindangnya pohon
dimana setiap dahannya saling berpelukan
membentuk sebuah terowongan yang teduh
seolah menjaga ku yang tengah tertidur di bawahnya
atau melindungi bunga-bunga itu agar tetap indah mewangi

kian lama aku dengar suara kepakan sayap itu semakin jelas
serentak aku bangun, aku buka mataku
dan ternyata aku masih disini, di atas gurun yang gersang ini
aku lihat dan ternyata itu adalah kepakan burung bangkai
yang telah mengira aku telah mati dan siap menyayat
helai demi helai sisa daging ku yang hanya melekat pada tulang
aku dapat mahami dan mengerti itu dari cara mereka memandangku

aku pun berdoa “perintahkanlah pada malaikat itu untuk segera cabut
nyawa ku, jangan biarkan aku hidup lebih lama lagi, agar mereka
dapat memakan sisa dagingku ini, agar mereka terbebas dari segala
derita lapar yang menyiksa, karena aku mengasihi mereka
sebagai mahluk hidup, layaknya Engkau yang telah mengasihiku

dan seketika itu pula aku pun menghembuskan nafas terakhirku
dengan seulas senyuman aku perhatikan burung-burung itu
penuh lahap menyantap dagingku.

Tidak ada komentar: