Kusaksikan jalan lengang ini
dihiasi lampu remaram yang saling berjauhan
di tengah malam, di bawah rintik hujan
sindiri aku tapaki jalan ini.
Gemerecak genangan air meriak,
kala aku tapakan kaki di atasnya
bagai suara kesedihan yang tidak berkesudahan
Tapi tidak untuk ku, ku dengar itu
bagai irama yang senandungkan harapan dan semangat
untuk aku laluinya dan juga membuat sirna rasa takut ku
akan bayang-bayang hantu dari balik cahaya redup lampu itu
dibawah rintik hujan ini, sendiri aku tapaki jalan ini
meski sunyi, tapi tidak dalam diriku
sangatlah ramai senandung merdu yang antri untuk naik kepermukaan
yang ingatkan aku akan dirimu
namun tidak satu pun yang berhasil
karena bibir ini hanya dapat ucapkan nama mu
bayang dirimu yang hantarkan aku tapaki jalan ini
hingga tanpa aku sadari, aku telah samapai pada pintu
dimana aku dapat mengetuk pintu hatimu
dengan segenap cintaku
***
Disaaat seulas senyum dari bibirmu terlukis
tak ada lagi dari dunia ini yang dapat melebihi keindahannya
lebih mesra dari hembusan angin yang gugurkan bunga kertas
kelopaknya yang melayang manja, membelai
mempesonakan mata
di malam yang indah nan syahdu ini
meski jauh, kita tetap berpadu dalam satu rasa rindu
seketika bagahia tercipta
luas bentangi tingginya cakrawala hingga kau
terasa kau begitu dekat dihadapan mata
biar ku peluk erat diri mu,
agar badai kehampaan ini tidak lagi datang
dan hujan pun segera reda
biar cintamu ku peluk erat, agar kehampaan malam ini sirna
terseret warna-warni pelangi yang hiasi dinding hati
***
Jika bunga dapat diartikan sebagai sesuatu yang menyenangkan,
maka terimalah bunga ini…
Karena mungkin dapat menenangkan hati mu yang gundah
Maka terimalah bunga ini sebagai sesuatu yang dapat jadikan indah hati mu
Karena sesungguhnya di dalam dirimu tidak ada lagi keburukan
Tak ada apa pun yang dapat merusak keindahan mu.
Jika bunga dapat diartikan sebagai sesuatu yang tulus dan suci,
maka terimalah bunga ini…
sebagai ungkapan maaf ku pada mu yang tulus menjelma dari dalam hati ku
maka terimalah bunga ini sebagai tanda kesucian hatimu untuk memafaakan ku
Jika bunga dapat diartikan sebagai sesuatu yang penuh kasih dan sayang
maka terimalah bunga ini…
sebagai ungkapan sayangmu kepada ku
sebagai tanda cinta mu kepada ku
***
Diseluruh ngarai tergerai rambut kabutmu
Air telah meresap kecelah tanah
Tumbuhkan rerumputan
Gaung fana dari tanah kerontang tak lagi terdengar
Ketika tubuh gaib mu jauh dari jangkauan
Denyut waktu kuncupkan nyeri
Menggelinjang dalam tubuh
Selimuti darah gairah
Mengendap di dasar nadi
Angin kerinduan akan segera tiba
Menghamburkan derai-derai derita di pundak ku
Tangan ini peluk erat tubuhmu
Peluk cium gugurkan helai-helai ruang gelapku
***
Gelap malam yang kini kian membisu
Temani keheningan malamku
Air mata berderai kala ku kenang dirimu
Dalam sepoi malam kau yang ku rindu
Aku kasih menggali-gali nurani
Adakan menyatuan kita di esok hari
Hingga cicit perkutut gemeracak
Bangunkan daun dan ranting pohon
Hingga mentari lambaikan senyuman
Namun tetap
Rinduku tak terganti
Gundahku tetap tidak tergali
***
Hatiku berbisik :
“keindahan adalah apa yang menarik di jiwa,
Kepadanya cinta di beri tanpa pernah meminta”
***
Kata-kata bermimpi tentang mimpi mereka sendiri
lebih cantik, lebih berwarna
sementara kita kusut tergesa di buru waktu
dalam udara bergolak cemar dan berdebu
Dirumah, kelas dan cafe yang sesak
aku menghirup wangi kata-kata, hanya sejenak
tentang cinta, kehidupan, caci maki dan lelucon cabul
seakan kata-kata terbuhun dan hancur di daun telinga
Pada saat kita lolos dari sini
dimana kita dapat tertawa dan bercinta
ditengah kata-kata yang tengah asik bermimpi
barulah kita sadari kalau semua itu tidaklah berarti
Senin, 09 Maret 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar