Senin, 23 Maret 2009

Cipularang

dimusim ini

petir menyala di dada musim hujan ini,
sore semakin remang, aku tahu kau tak akan datang.

kau tak akan mendengar ku,
sebab petir itu menyala tak pernah sampai kepada mu,
saat kau tidak bersama ku,
kebisuan ku tak pernah kau pecahkan,
engkaulah lebah yang menyengat jantung ku,
kemudian hilang perlahan bagai asap rokok.

mungkin air mata tak pernah jatuh di pipi mu,
karena mata mu menampik musim yang akan datang,
walau terkadang serpihan cahaya matahari
jatuh disitu kuncupkan bunga hingga merekah.

mungkin hati mu terlalu dalam dan dingin,
hingga air musim hujan ini tak meresap barang setetes,
walau telah ku bisikan dengan dongeng cerita cinta
sebelum kau tertidur.

dan petir menyambar lagi di dada musim hujan ini,
sore semakin remang, aku pastikan kau tak akan datang.
mungkin ada kisah yang hilang dalam dongeng ku,
atau kah aku lupa menghitung waktu yang telah aku lalui,
- entahlah -

jika kau mendengar petir di langit musim hujan ini bersahut-sahutan,
percayalah bahwa itu adalah suara ku yang geram pada langit,
karena tidak dapat menjumpai mu,
dan apabila kau lihat kilatan cahaya petir di musim hujan ini,
itu adalah usaha ku menemui mu,
yang berada di kegelapan hati ku yang dalam.

- sepanjang april 2009 -




***

kata-kata yang berbeda

Aku rindukan
Saat dimana kita melangkah besama
Mungkin suatu saat nanti
Lebih dari sekedar cinta yang ada
Atau mungkin malah tak pernah terucap
Atau keterpurukan ini
Membuat kita saling menunggu
Menunggu untuk mengulang kembali

Mungkin nanti aku ucapkan kata-kata yang berbeda
Karena aku bertarung dengan seorang yang ku rindu

Mengapa kita tidak saling mengatakan
Mengatakan apa yang kita pikirkan
Untuk mengetahui yang sesungguhnya
Kenyataan yang tidak pernah terucap

-05 Mei 2009-




***

ku akui tak dapat aku pungkiri semua rasa ini
kau telah menjadi kepingan yang merangkai tautan waktu dalam kisah hidup ku
kau yang tidak akan terlupakan untuk ku,
karena kau adalah teman bermain ku

kita yang tanpa terasa hadir dalam satu penyatuan
dimana kita dapat tiupkan keindahan,
yang berasal dari kedalaman hati yang kita punya,
hingga sebuah kesalahan pun tak lagi kentara
bahkan sebuah dosa termanis kita rasakan juga

jangan pernah ada kata maaf darimu
karena maaf tidak diperlukan untuk kita
yang kita perlukan hanyalah menikmati sisa waktu ini,
waktu yang semakin menghimpit kita
untuk benar-benar terpisahkan,
selamanya...



***

setiap kali cahaya bulan turun ke bumi
dari lubuk hati aku berbisik:
“berapa lama lagi aku harus menunggu?
sekedar untuk luluhkan rindu!”

tidak ada yang berucap untuk menjawab
tak ada yang beri tanda atau isarat
jangan katakan ini hanya lelucon
“ini bukan omong kosong!!!”

ia menjadi air bening di tanah lempung dan
benih akan setia, dimana pun ia berada
agar tersisih segala cemas
jika sekiranya hati akan tegar
tidak juga sedih karena tindakan lawan

apalah arti bulan dan bintang di gelap malam?
tidak akan berarti apa-apa!
karena bayangan angan,
cahaya mata sudah menambah terang

‘betapa kerinduan ini menelungkupi hati dan hari ku!’


***


cinta pun menghampar seperti pasir
luas menembus batas pelabuhan nurani
sekejap pun tidak dapat disentuh oleh biduk kebencian

diriku bimbang dalam ombak kerinduan
dimakah jangkar harapan itu di tambatkan
sementara lautan waktu begitu luas di hadapan ku

kehidupan menjadi aneh karenanya
tenggelam dalam wujud penantian yang melelahkan

rindu pun menggulung menjadi ombak
yang kemudian pecah menjadi gelombang
sirna perlahan tanpa berkesudahan



***


‘jika sekiranya’

jika sekiranya
kau tidak merasa kan yang lain
kecuali kejengkelan atau tidak apa pun
jika sekiranya
hari penantian sudah dekat
datang terurut satu persatu kepada mu
jika sekiranya
maut telah bertahta atas pikiran mu
tanpa kebahagian beserta di sampingmu

aku minta
bersama mu di atas bangku
di bawah pohon cemara
di tempat dan waktu yang sama
seperti biasa kita bersama
aku minta kepada mu
kamu bawa foto-foto kita bersama
untuk ceritakan kembali
kenangan yang tersimpan
aku minta kepada mu
sempatkan untuk kembali
ketempat dimana biasa kita
habiskan waktu bersama

jika sekiranya aku meminta kepada mu



***


dalam dingin dan hujan ini
kurindukan engkau, cintaku
dalam hati yang tulus
cinta menyandarinya
kerinduan yang menjulang
betapa indahnya ini
cantik dan penuh pesona
anggun dan lembut jadi satu

aku tak kuasa lagi
aku tak terkendali
terayun-ayun
tak mampu kuasai hati

bilakah semua ini akan berhenti
selimuti hati yang telah terpatri
oleh cinta yang tak terganti



***


ketika cinta datang tertawan si jantung mutiara
dia biarkan hatiku berkobar dan bersorak sorai
dalam lengang yang maha aku tidak dapat duduk tenang
hingga hasrat cinta datang mengetuk gerbang

pohon segala suka cita telah tanamkan akar cinta dalam hati
apa pun yang aku miliki bercahaya kini
mereka berkata :
‘hati yang riang adalah kembang suasana yang berkilauaan’


***


menemuimu adalah satu-satunya hasratku
memahamimu jauh dari jangkauan ku
mengingatmu adalah hiburan ku, bagi hatiku yang gelisah
mmbayangkan mu adalah teman setia ku
aku sebut nama mu berulang-ulang, siang dan malam
nyala cinta mu terangi gelap malam ku

Tidak ada komentar: