Rabu, 29 Oktober 2008

brengsek 02

dengan cinta yang sama

Setelah badai menghempasnya

Merobek pakaiannya hingga rombeng

Ia tidak temukan perlindungan

Namun, ia tidak perduli

Ia kini tak terlihat lagi di bawah sisa-sisa air hujan

Ia luluh untuk ratapi dosa

Ia kini tak terlihat lagi di bawah sisa-sisa air hujan

Ia bersimpuh untuk dapatkan kesucian jiwa

Apa yang dapat dilakukan para nabi sekarang?

Tentang cinta yang pernah dikatakan

Ia coba memulai dengan lapang, dengan keyakinan baru

Untuk tidak menuduh

Jika dunia ini fana adanya, dengan cinta yang sama ia memohon

Dan tak ada tempat untuk sembunyi

Ia luluh untuk ratapi dosa

Dan tak ada tempat untuk sembunyi

Ia bersimpuh untuk dapatkan kesucian jiwa

28.08.2002







kala cinta menyiami rasa dijiwa

ku lihat ada sesuatu di bulat matamu

Terpancar tanpa kau sadari meniti hatiku

Kala pertama kau bisikan kata cinta

Kurasakan itu suatu ungkapan yang sangat berarti

darimu yang tak dapat pungkiri bisikan nurani

Dihati, kan terungkap rasa yang terindah

Tentang cinta dan bunga-bunganya

Yang mekar dan mewangi keseluruh raga

Hati yang dibalut cinta

Tak kan pernah beku walau terkubur salju

Dan tanpa kau ragu

Cinta untuk ku bukan untuk sementara waktu


210104









M u n a f i k

Dengan segala kemunafikan aku katakan pada mu

Cinta baru tumbuh dalam hati ku

Aku bohongi hatiku dan juga kamu

Sungguh bodoh aku ini!!!

Masuk dalam perangkap kemunafikan

Yang aku buat sendiri

Bukankah lebih baik hidup dalam keterasingan

Daripada menjadi budak kemunafikan

Sepinya keterasingan dan hinanya kemunafikan

Bagiku, keduanya bukanlah suatu pilihan

Cinta yang lalu terkikis habis oleh waktu dan

Cinta yang baru mati kutu bersama nafsu

030805












Ketika seulas senyman dibibirmu menyapa,

Tak ada lagi di dunia ini yang dapat melebihi keindahannya.

Lebih mesra dari hembusan angin yang gugurkan kelopak bunga,

Melambai, melayang manja, mempesona mata.

Dalam malam yang indah nan syahdu ini,

Meski jauh kita tetap berpadu dalam satu rindu.

Bahagia yang tercipta, luas bentangi tingginya cakrawala,

hingga kau pun terasa begitu dekat

Biar ku peluk erat dirimu, agar badai kehampaan ini

tak lagi datang dan hujan pun segera reda.

Biar ku peluk erat cintamu malam ini,

agar kegelapan sirna terseret warna-warna pelangi yang hiasi dinding hatiku.

170204











kala cinta menyiami rasa dijiwa

ku lihat ada sesuatu di bulat matamu

Terpancar tanpa kau sadari meniti hatiku

Kala pertama kau bisikan kata cinta

Kurasakan itu suatu ungkapan yang sangat berarti

darimu yang tak dapat pungkiri bisikan nurani

Dihati, kan terungkap rasa yang terindah

Tentang cinta dan bunga-bunganya

Yang mekar dan mewangi keseluruh raga

Hati yang dibalut cinta

Tak kan pernah beku walau terkubur salju

Dan tanpa kau ragu

Cinta untuk ku bukan untuk sementara waktu

210104








Kabar Kematian

Tersiar kabar tentang kematiannya

Di iringi fajar hari ini, Ia telah memanggil ruh nya

Siapa yang kira, tidak ada yang nyana

Tubuhnya belum renta, masih kuat tuk pikul cita-cita.

Rambutnya belum memutih, walau sepucuk,

Banyak harapan yang ingin diraih tentunya

Tulang-tulangnya belum regang,

Masih tersusun rapi bak kelopak bunga baru

Namun… kini ia telah pergi

Ia kini milik angkasa

Dengan manis wajahnya terlukis disana…









lorong sunyi”

Menyibak tirai hati, lorong sunyi panjang terbentang

Tak tergali…

Ada salam buihkan tawa

Ada senyum membawa ceria

Ada salam menuai kata

Detik pertemuan itu masih menjadi lorong sunyi

Panjang membentang bersama waktu, mengukir tanya

Panas, dingin menambah rasa

Air mata, rona bahagia hiasi muka

Karena cinta sejukan jiwa kita

dan kita pun menyusup ke dalam biuh pesonanya

Di lorong sunyi yang panjang ini, bersama kita sama-sama

Tapaki kaki di atas sang waktu yang tak pernah berhenti

Mata tetap menatap cakrawala

Angan biarkan menerawang

Akal merenung pecahkan semesta

Mulut bicara dapat menambah dosa

Lorong sunyi tetap terbentang, menjadi dinding tebal

tidak terkuak, menjadi misteri yang begitu akrab

karena kita tidak kemana-mana

tidak datang tidak pula pergi

tetap disini, diantara pemisah kita

23.05.2002











“Penyatuan“

Aku adalah dia yang ku cintai

Dia yang ku kenal adalah aku

Kami adalah satu jiwa dalam dua raga

Jika kau lihat aku, kau lihat dia pula

Adalah aku juga yang kau lihat




Ku berikan kepadamu

Sekeping hati penuh harapan

Berisi ungkapan dan perasaan

Tentang cinta dan segalanya

Semoga ada sekeping hati yg lain

Darimu….

Yang selalu setia mendampingiku




Bara api hampir padam

Namun belum juga aku rengkuh

Bayang wajah yang terkenang

Bersama angan yang temaram

Setiap pandangan yang ada hanya kesunyian

Karena ia mungkin kekasih impian


Luka cinta yang lalu adalah kebahagiaan

Bunga cinta yang lalu adalah luka dalam hati

Bahagia saat ini adalah rentetan tanda tanya yang dalam

Luka hati saat ini adalah rasa ingin tahu tanpa akhir

Hingga sampai pada luka cinta dan bunga cinta di hati

Ungkap semua tanda tanya, hingga akhir…..


kelebat sayap kabutmu gugurkan bunga kenanga

menjadi bunga api yang bersembunyi dalam urat-urat jantungku

nafasku tak benar-benar putus, oleh jeratan denyut sang waktu

kau tiupkan ruh baru bagi detik-detik yang terus mengalir

jiwa yang dipenuhi tanaman berduri

menjadi mawar putih

membawa serta gelak kicua burung yang bertengger

pada pesona magis jiwamu


Wajah siapakah yang terselip kini

Dipelupuk mata?

Apakah dia yang menghindari ledakan cinta

Dan terpuruk dalam kebimbangan masa?




Tak pernah kita sesali apa yang pernah terjadi

Yang kita tahu, cerita cinta kita telah berlalu

Dan luka dihati tak pernah menjadi benci

Karena kita, saling pahami dan mengerti

Hingga luka dihati pun terobati kini

Tangis bahagia seakan meniti

Saat aku terangkan ini

Tidak untuk berharap kembali

Tetapi untuk aku selami

Betapa cinta yang telah berlalu itu

Begitu memberi arti…

01/12/2005




Engkaulah kekasih sejatiku

Wahai engkau yang senantiasa dalam kidung bahagia

Wahai engkau pelipur risau jiwaku

Engkau adalah puncak keberuntunganku

Penantianku sangatlah panjang, untuk selalu di dekatmu

Tetap pegang teguh janjimu, hingga aku pun tegar,

Meski di bawah langit biru yang mulai pudar.

Wahai engkau yang telah selami jiwa ini

Jauh lebih dalam dari yang ku bayangkan

Cukuplah bagi ku, selama waktuku, seumur hidupku

Engkau lah yang ku jadikan kekasih sejatiku

29/01/2004


Dalam relung senja, AKU dan jiwaku tertunduk

Menghadap pada masa diantara terang dan gelap

Aku bersama kalbuku nyanyikan lagu hati

Penuh nada cinta kepada mu

Tak ku sungkurkan jiwaku saat terjaga

Kugapai seikat penyejuk dan ku resapi

Perlahan hatiku teraliri kesegaran

Kau basuh tiap sisir daging dalam tubuhku

27*10*2003

Dimana lagi akan ku dapatkan, dimana lagi akan ku dengar?

Suara merdu itu… yang membuai angan

Tidak lain hanya dari mu yang begitu tajam

Goreskan pesona cinta dalam langit jingga hatiku

Dimana lagi akan ku temukan bening mata yang manja menawan?

Dimana lagi dapat ku pandangi seraut wajah yang tecipta sempurna?

Tidak lain hanya dari mu, yang begitu indah hiasi taman hati ku

Dengan bunga-bunga cinta mu yang beraneka warna

15*02*2004




Kelebat sayap kabutmu gugurkan bunga kenanga

Menjadi bunga api yang bersembunyi dalam urat-urat jantungku.

Nafasku benar-benar putus oleh jeratan sang waktu.

Namun kau tiupkan ruh baru dalam jiwaku

Hingga detik-detik waktu ku tetap mengalir.

Pesona magis jiwamu bawa serta tulip putih di hatiku

Jiwaku kini tak lagi dipenuhi tanaman berduri

31/08/2003




Tidak kah kau lihat sepasang merpati

di atas ranting nan hijau itu?

Riang punuh canda, sambut kehangatan setelah hujan

di hiasi kemilau tetesan air yang pantulkan cahaya pagi

kebahagian itu tidak lagi aku cemburui

sejak kehangatan cinta mu ada dalam jiwa ku

lindungi ku dari dinginnya hujan semalam

tak ada lagi sepi, tak ada ruang hampa di hati

kau penuhi dengan sayang mu dan cinta yang

kau berikan untuk ku

26/04/2003




Meski terdengar lirih dari bibir manggismu

Bahwa diatas gelombang hidup dan buih resah ini

Kan ada bunga yang akan selalu merekah

Diantara sudut ruang dan waktu

Sementara uap-uap mimpi terus meluas

Dilantai bumi, tempat kita jalani hari

Dan juga awan-awan tak jua berhenti

Curahkan kesunyian di dalam hati

Semoga tak henya sekedar janji yang terucap

Dari bibir manggismu, namun juga aroma wangi

Wangi yang penuhi setiap sudut ruang hati ini

31/08/03




“sebelum tidur”

Namun bila terdengar lagi suaramu

Jauh lebih mesra ketimbang cahaya rembulan

Yang daratkan kecupan hangat di pelupuk mata

Kan kurengkuh dirimu dengan serajut kata-kata lembut

agar diujung mimpimu kau tetap tenang di tengah ranjang

“selamat istirahat sayangku, biar aku yang tetap terjaga

diluar lelap mu dan mimpikan semua yang terjadi pada

diriku!”




semoga keindahan ada di depanku

semoga keindahan ada di belakangku

semoga keindahan ada di atasku

semoga keindahan ada di bawahku

semoga keindahan ada di dalam diriku

semoga keindahan ada mengelilingiku

semoga keindahan lenyapkan ku

semoga dengan keindahan hati dan akal ku sejalan….




derap langkah TIADA HENTI

MENYUSURI HARI RAGA MENCARI

LORONG-LORONG PUN MENJULANG KE ANGKASA

MERINTIK SUNYI MENERJANG MURKA ANGKARA

HASRAT HATI HANYA DOA PERISAI HARI KE HARI

MENJANGKAU PELANGI YAKIN DAN PASTI

JURANG BATASI DIRI PRAHARA DI LEWATI




07.08.2002

Tak kan ku biarkan

Jiwa terbelenggu

Hati ku yang bebas

Tidak akan terpikat hanya karena

wajah elok dunia karena

Tak ada yang dapat buat ku bahagia

Karena aku inginkan kebebasan

Hati dan jiwa ku…

Biarkan aku sendiri, bukan untuk sembunyi

Biarkan aku sendiri, bukan untuk hindari

Biarkan aku sendiri, bukan untuk ingkari















Sejak bayang mu bermukim dalam dada

Dalam singgasana yang megah di hati

Aku tidak lagi sepi

Meski hening, di tengah malam tak ada lagi sunyi

Aku menjadi seorang yang haru gembira

Sepanjang hari dalam gemilang bahagia

Kau sulap gelap jiwa jadi terang benderang
kau ubah belantara hati menjadi taman penuh mawar

Kau adalah matahari dalam cahaya kata-kata

Bila sinarmu marak bercahaya

Tak ada kata lain selain tentang berkembangnya jiwa

26/11/2002











Sepi tak lagi menyapa hari

bukannya lantaran perginya pelangi

ataupun kicau kaswari

bahkan, mentari yang berseri di pagi hari

seakan tak mampu menandingi

keindahan yang telah pergi

namun, ketika kau datang

layaknya bidadari, kau selami diri ini

untuk mengajakku bernyanyi

bersama irama surgawi yang riuh mengiringi

kau pun ikut menari

ketika kau datang

jiwamu pun ikut menyertai

bukan untuk lekas pergi

atau pun sekedar menghampiri

aku pun menakini

jiwa ku telah kau selusupi

agar kau dapat penuhi pundi-pundi hati ini

dengan cinta yang kau beri

20/10/2005









Ketika kepakan cahaya pagi menyapa jendela kamar

begitu menyentak, silaukan mata yang sedang tertidur pulas….

Seorang laki-laki tidak sedang dalam lamunan

tidak juga dalam kidung mimpi

ia tengah bermain dengan hatinya sendiri

tidak untuk mencari kesenangan

tidak sekedar mengisi waktu luang.

Kerikil tajam, jalan selapak mudah dilaluinya.

Pada satu keteguhan hati ia berpegang.

Buat apa meski risaukan terpaan ombak yang menggulung,

karena kesedihan hatinya tidak mudah rampung

sama seperti pagi sebelumnya

dengan segera ia sapa pujaan hatinya

“s’lamat pagi sayang….!!!”












“tengah malam”

Tersentak bangun di tengah malam

Ranjang kayu, bantal kapuk dan kasur penuh debu,

Telah memikatkau hingga terlena

Ku raih secangkir kopi hitam

Ku rengkuh bibirnya, punuh nikmat

Walau rantai semut hitam mengelilingi

Ada sebagian tenggelam, tertelan

Seraya hati berbisik:

“Aku tidak membencimu, aku mencintaimu dan aku membunuhmu

Maafkan aku…

Sama seperti banyak orang lakukan untuk bertahan hidup.

Mari kita pertanyakan, “siapa yang bisa tetap tinggal dengan tenang dalam alam ini?

Ku rasa aku tidak perduli….

Aku tidak perlu seorang pun kali ini

Lihatlah…!! Dengan manjanya kasur merayuku

Untuk kembali rebahkan tubuhku di atasnya

Sayangnya kantuk telah meninggalkan ku

Tidak bersama ku lagi…

Ku buka gordeng jendela, agar layangku tak terhalang

Agar angin malam lembut membelai bulu kuduk ku

Atau mengelus bagian lain tubuh ku

Aku lihat bintang begitu heran dengan diriku

Memandangiku penuh hasrat yang menggelora

Akhirnya kita pun bercengkrama….

Hingga kini fajar merenggut kemesraan kita

07.07.2002










“ Tidak Berdaya Guna”

Kehampaan datang dan tak mau pergi

Yang lain datang menemaniku setiap saat

Berganti cerita dan laku

Tidak dapat mengisi jiwa ini.

Tidak berdaya guna.

Diri ini sunyi, alunkan senandung

Kata-kata yang terucap tumbuhkan dusta.

Angan melayang menyibak tirai rahasia

Namun tetap berputar pada pusara.

Tidak berdaya guna

Lingkar mata tampak cekung

Hitam kelam adalah bayang derita.

Linang air mata hanya tumbuhkan nanar

Tak berhenti meski berdiri terbalik

Tidak berdaya guna

Seulas senyuman tanda bahagia

Tutupi wajah pucat karena nelangsa,

Tidak berdaya guna.













Tidak untuk bersama lagi


Tak akan ku paksakan pada mu

Untuk dapat menerimaku

Tak akan pula ku paksakan diriku

untuk menjadi milik mu


kan ku biarkan segala berjalan apa adanya

apa adanya diriku

apa adanya dirimu

yang tidak mungkin jadi satu


cukuplah bagiku selalu mengenalmu

hingga kita tak pernah merasa asing

disetiap hari yang berganti selalu memberi arti

walau kita tahu tidak untuk saling mencintai

04/12/05

Rabu, 22 Oktober 2008

brengsek 01

dengan cinta yang sama


Setelah badai menghempasnya

Merobek pakaiannya hingga rombeng

Ia tidak temukan perlindungan

Namun, ia tidak perduli

Ia kini tak terlihat lagi di bawah sisa-sisa air hujan

Ia luluh untuk ratapi dosa

Ia kini tak terlihat lagi di bawah sisa-sisa air hujan

Ia bersimpuh untuk dapatkan kesucian jiwa

Apa yang dapat dilakukan para nabi sekarang?

Tentang cinta yang pernah dikatakan

Ia coba memulai dengan lapang, dengan keyakinan baru

Untuk tidak menuduh

Jika dunia ini fana adanya, dengan cinta yang sama ia memohon

Dan tak ada tempat untuk sembunyi

Ia luluh untuk ratapi dosa

Dan tak ada tempat untuk sembunyi

Ia bersimpuh untuk dapatkan kesucian jiwa

28.08.2002







“tak tersampaikan”


dari belahan bumi yang berbada

seperti mulut yang menganga lapar

tumbuh diantara rapat sela-sela

daun hutan pinus sekonyong berhamburan

disergap hembusan angin dingin yang tak rapi

sebagian entah kemana, hilang……!!!

Yang lain menjadi seonggok


dari belahan bumi yang berbada

hanya terhalang kaca jendela

mata yang berbinar berubah nanar

melihat rerontokan itu, hingga lapar

seakan tak pernah kenyang

dan isi dada terhunus

ingin menembus raga


di atas belahan bumi yang berbeda

seperti maut yang segera merenggut

gundah tumbuh di atas pori-pori jiwa

yang kering, tetap menari diantara

lapisan angin dingin yang tak lagi

tersusun rapi


di atas belahan bumi yg berbeda

bongkahan tanah kering selimuti liang

pori-pori yang terus membesar dan mendalam

angin dingin yang tak lagi rapi

tak jua mau kompromi

hingga tariannya tertinggal di tanah kering pekuburan

dari belahan bumi yang berbeda

08/08/2005









“Dihadapan Cermin”

Ceritakan apa yang terjadi pada dirimu

Aku pun akan begitu

Curahkan segala isi hatimu kepada ku

Aku pun akan begitu

Bahagiamu adalah bahagiaku

Sedihmu, berbagilah padaku,

Tanpa ragu, aku pun begitu

Kita berdua…

Layaknya seseorang dihadapan cermin

Jika kau sebagai cermin…

Maka tanpamu sulit bagiku untuk melihat rupa ku sendiri…


04/12/2005







Cukuplah bagiku

Setelah sekian lama ini, kau buat hati ini bercahaya.

Bagai kilau bening embun pagi,

yang menari diatas dedaunan,

sambut mesra hanyatnya surya.

Engkaulah satu-satunya yang mampu

belai mesra kabut asmara dalam jiwaku.

Hingga tidak ada lagi hampa.

Sayap cinta telah ku miliki kini

Cukuplah bagiku cinta darimu,

Bunga cinta yang kau tanam, sangatlah memikat

Tak dapat lagi, untuk aku tumbuhkan bunga cinta yang lain.

13/02/2004







kala cinta menyiami rasa dijiwa

ku lihat ada sesuatu di bulat matamu

Terpancar tanpa kau sadari meniti hatiku

Kala pertama kau bisikan kata cinta

Kurasakan itu suatu ungkapan yang sangat berarti

darimu yang tak dapat pungkiri bisikan nurani


Dihati, kan terungkap rasa yang terindah

Tentang cinta dan bunga-bunganya

Yang mekar dan mewangi keseluruh raga

Hati yang dibalut cinta

Tak kan pernah beku walau terkubur salju

Dan tanpa kau ragu

Cinta untuk ku bukan untuk sementara waktu

210104








“tertuju kepada yang terkasih”

Sejak setahun kemarin, sampai esok lusa

Atau bahkan hingga tak berbatas waktu

Diri ini kan tetap tertuju pada mu

Yang terkasih….

Semua yang tercipta dan tertuju hanya karena yang terkasih selalu…

Dan seperti saat ini ketika hati ini tergerak

Tuk tuliskan sederet kata-kata

Sederet kata-kata yang goreskan arti kelembutan

Dan mungkin akan terpahat selalu dalam relung hati mu

Dan seperti saat ini ketika jiwa ini terpesona,

Akan gerak bayang-bayang dirimu

Yang senantiasa terlukis di pelupuk mata.

Hangat, selimuti jiwaku…

Indah, rasuki setiap mimpiku…

Dan disetiap diri ini tergerak

Entah untuk apa pun itu hanya kepada yang terkasihlah semua tertuju

24/01/2004







“tak tersampaikan”

dari belahan bumi yang berbada

seperti mulut yang menganga lapar

tumbuh diantara rapat sela-sela

daun hutan pinus sekonyong berhamburan

disergap hembusan angin dingin yang tak rapi

sebagian entah kemana, hilang……!!!

Yang lain menjadi seonggok

dari belahan bumi yang berbada

hanya terhalang kaca jendela

mata yang berbinar berubah nanar

melihat rerontokan itu, hingga lapar

seakan tak pernah kenyang

dan isi dada terhunus

ingin menembus raga

di atas belahan bumi yang berbeda

seperti maut yang segera merenggut

gundah tumbuh di atas pori-pori jiwa

yang kering, tetap menari diantara

lapisan angin dingin yang tak lagi

tersusun rapi

di atas belahan bumi yg berbeda

bongkahan tanah kering selimuti liang

pori-pori yang terus membesar dan mendalam

angin dingin yang tak lagi rapi

tak jua mau kompromi

hingga tariannya tertinggal di tanah kering pekuburan

dari belahan bumi yang berbeda

08/08/2005












Kemana kamu akan pergi

Kini kamu tak cukup kuat, untuk menghilang dariku

Sekalipun dibawah selimut tebal, kamu terlihat ada

Kamu tetap terlalu sulit, untuk menghilang ketempat jauh

Dimana pun kamu tinggal, kamu akan selalu bersama

Bekas kakimu terceplak diatas lantai

Sidik jarimu membekas di dinding

Gerak tarimu menghasilkan kisaran angin

Jika suaramu menyeru,

angin akan mengisyaratkan namamu dengan hamburan debu.

atau jika abu mu di tenggelamkan dibawah laut

akan ikut serta pula dalam riak gelombang

pasir dan buih yang tersapu ombak

akan lukiskan jejak kepergianmu

06.07.2002










“Dihadapan Cermin”

Ceritakan apa yang terjadi pada dirimu

Aku pun akan begitu

Curahkan segala isi hatimu kepada ku

Aku pun akan begitu

Bahagiamu adalah bahagiaku

Sedihmu, berbagilah padaku,

Tanpa ragu, aku pun begitu

Kita berdua…

Layaknya seseorang dihadapan cermin

Jika kau sebagai cermin…

Maka tanpamu sulit bagiku untuk melihat rupa ku sendiri…

04/12/2005












“ dalam percakapan “ 29/10/2003

A : ia tidak pedulikan aku lagi!!!!

B : jangan terlalu jauh, bukankah kalian sudah saling menyatu?

A : ia sudah tidak seperti waktu itu. Aku sudah tidak mengenalinya

lagi, seperti sesuatu yang asing tapi begitu akrab untuk ku.

B : itu hanya masalah waktu. Waktu selalu berubah kearah yang

tidak engkau tahu.

A : bukankah hal itu dapat menenggelamkan ku dalam lara yang

tidak bertepian?

B : sebaliknya…!! dengan begitu kau dapat mengisi relung

hatinya.

A : akankah relung dalam hatinya itu dapat ku penuhi seutuhnya?

B : karena hidup tidak hanya dilihat dari bagaimana engkau

mengatasi atau menyelesaikan masalah, tapi juga keberanian

mu untuk tetap melangkah setelah sesuatu itu diambil

sebagai jalannya.

A : kesadarankah maksudmu?

B : walau kau bertepuk sebelah tangan, itu jauh lebih baik dari

pada kau tidak memiliki apa pun.

A : mungkinkah itu?

B : asalkan kau tidak lupa ketika bahagia dan tidak merengek

ketika teringat kembali.

A : tawa dan tangis bukankah hal yang wajar?

B : seperti halnya dedaunnan, ia akan kembali tumbuh hijau

dalam kelembaban.

A : tetap sadar, biarkan ia buka relung hatinya dan kemudian

mengisinya dengan kefanaan.

B : akhirnya…!!

A : itu hanya masalah waktu. Waktu selalu berubah kearah yang

tidak kita tahu.