Rabu, 22 Oktober 2008

brengsek 01

dengan cinta yang sama


Setelah badai menghempasnya

Merobek pakaiannya hingga rombeng

Ia tidak temukan perlindungan

Namun, ia tidak perduli

Ia kini tak terlihat lagi di bawah sisa-sisa air hujan

Ia luluh untuk ratapi dosa

Ia kini tak terlihat lagi di bawah sisa-sisa air hujan

Ia bersimpuh untuk dapatkan kesucian jiwa

Apa yang dapat dilakukan para nabi sekarang?

Tentang cinta yang pernah dikatakan

Ia coba memulai dengan lapang, dengan keyakinan baru

Untuk tidak menuduh

Jika dunia ini fana adanya, dengan cinta yang sama ia memohon

Dan tak ada tempat untuk sembunyi

Ia luluh untuk ratapi dosa

Dan tak ada tempat untuk sembunyi

Ia bersimpuh untuk dapatkan kesucian jiwa

28.08.2002







“tak tersampaikan”


dari belahan bumi yang berbada

seperti mulut yang menganga lapar

tumbuh diantara rapat sela-sela

daun hutan pinus sekonyong berhamburan

disergap hembusan angin dingin yang tak rapi

sebagian entah kemana, hilang……!!!

Yang lain menjadi seonggok


dari belahan bumi yang berbada

hanya terhalang kaca jendela

mata yang berbinar berubah nanar

melihat rerontokan itu, hingga lapar

seakan tak pernah kenyang

dan isi dada terhunus

ingin menembus raga


di atas belahan bumi yang berbeda

seperti maut yang segera merenggut

gundah tumbuh di atas pori-pori jiwa

yang kering, tetap menari diantara

lapisan angin dingin yang tak lagi

tersusun rapi


di atas belahan bumi yg berbeda

bongkahan tanah kering selimuti liang

pori-pori yang terus membesar dan mendalam

angin dingin yang tak lagi rapi

tak jua mau kompromi

hingga tariannya tertinggal di tanah kering pekuburan

dari belahan bumi yang berbeda

08/08/2005









“Dihadapan Cermin”

Ceritakan apa yang terjadi pada dirimu

Aku pun akan begitu

Curahkan segala isi hatimu kepada ku

Aku pun akan begitu

Bahagiamu adalah bahagiaku

Sedihmu, berbagilah padaku,

Tanpa ragu, aku pun begitu

Kita berdua…

Layaknya seseorang dihadapan cermin

Jika kau sebagai cermin…

Maka tanpamu sulit bagiku untuk melihat rupa ku sendiri…


04/12/2005







Cukuplah bagiku

Setelah sekian lama ini, kau buat hati ini bercahaya.

Bagai kilau bening embun pagi,

yang menari diatas dedaunan,

sambut mesra hanyatnya surya.

Engkaulah satu-satunya yang mampu

belai mesra kabut asmara dalam jiwaku.

Hingga tidak ada lagi hampa.

Sayap cinta telah ku miliki kini

Cukuplah bagiku cinta darimu,

Bunga cinta yang kau tanam, sangatlah memikat

Tak dapat lagi, untuk aku tumbuhkan bunga cinta yang lain.

13/02/2004







kala cinta menyiami rasa dijiwa

ku lihat ada sesuatu di bulat matamu

Terpancar tanpa kau sadari meniti hatiku

Kala pertama kau bisikan kata cinta

Kurasakan itu suatu ungkapan yang sangat berarti

darimu yang tak dapat pungkiri bisikan nurani


Dihati, kan terungkap rasa yang terindah

Tentang cinta dan bunga-bunganya

Yang mekar dan mewangi keseluruh raga

Hati yang dibalut cinta

Tak kan pernah beku walau terkubur salju

Dan tanpa kau ragu

Cinta untuk ku bukan untuk sementara waktu

210104








“tertuju kepada yang terkasih”

Sejak setahun kemarin, sampai esok lusa

Atau bahkan hingga tak berbatas waktu

Diri ini kan tetap tertuju pada mu

Yang terkasih….

Semua yang tercipta dan tertuju hanya karena yang terkasih selalu…

Dan seperti saat ini ketika hati ini tergerak

Tuk tuliskan sederet kata-kata

Sederet kata-kata yang goreskan arti kelembutan

Dan mungkin akan terpahat selalu dalam relung hati mu

Dan seperti saat ini ketika jiwa ini terpesona,

Akan gerak bayang-bayang dirimu

Yang senantiasa terlukis di pelupuk mata.

Hangat, selimuti jiwaku…

Indah, rasuki setiap mimpiku…

Dan disetiap diri ini tergerak

Entah untuk apa pun itu hanya kepada yang terkasihlah semua tertuju

24/01/2004







“tak tersampaikan”

dari belahan bumi yang berbada

seperti mulut yang menganga lapar

tumbuh diantara rapat sela-sela

daun hutan pinus sekonyong berhamburan

disergap hembusan angin dingin yang tak rapi

sebagian entah kemana, hilang……!!!

Yang lain menjadi seonggok

dari belahan bumi yang berbada

hanya terhalang kaca jendela

mata yang berbinar berubah nanar

melihat rerontokan itu, hingga lapar

seakan tak pernah kenyang

dan isi dada terhunus

ingin menembus raga

di atas belahan bumi yang berbeda

seperti maut yang segera merenggut

gundah tumbuh di atas pori-pori jiwa

yang kering, tetap menari diantara

lapisan angin dingin yang tak lagi

tersusun rapi

di atas belahan bumi yg berbeda

bongkahan tanah kering selimuti liang

pori-pori yang terus membesar dan mendalam

angin dingin yang tak lagi rapi

tak jua mau kompromi

hingga tariannya tertinggal di tanah kering pekuburan

dari belahan bumi yang berbeda

08/08/2005












Kemana kamu akan pergi

Kini kamu tak cukup kuat, untuk menghilang dariku

Sekalipun dibawah selimut tebal, kamu terlihat ada

Kamu tetap terlalu sulit, untuk menghilang ketempat jauh

Dimana pun kamu tinggal, kamu akan selalu bersama

Bekas kakimu terceplak diatas lantai

Sidik jarimu membekas di dinding

Gerak tarimu menghasilkan kisaran angin

Jika suaramu menyeru,

angin akan mengisyaratkan namamu dengan hamburan debu.

atau jika abu mu di tenggelamkan dibawah laut

akan ikut serta pula dalam riak gelombang

pasir dan buih yang tersapu ombak

akan lukiskan jejak kepergianmu

06.07.2002










“Dihadapan Cermin”

Ceritakan apa yang terjadi pada dirimu

Aku pun akan begitu

Curahkan segala isi hatimu kepada ku

Aku pun akan begitu

Bahagiamu adalah bahagiaku

Sedihmu, berbagilah padaku,

Tanpa ragu, aku pun begitu

Kita berdua…

Layaknya seseorang dihadapan cermin

Jika kau sebagai cermin…

Maka tanpamu sulit bagiku untuk melihat rupa ku sendiri…

04/12/2005












“ dalam percakapan “ 29/10/2003

A : ia tidak pedulikan aku lagi!!!!

B : jangan terlalu jauh, bukankah kalian sudah saling menyatu?

A : ia sudah tidak seperti waktu itu. Aku sudah tidak mengenalinya

lagi, seperti sesuatu yang asing tapi begitu akrab untuk ku.

B : itu hanya masalah waktu. Waktu selalu berubah kearah yang

tidak engkau tahu.

A : bukankah hal itu dapat menenggelamkan ku dalam lara yang

tidak bertepian?

B : sebaliknya…!! dengan begitu kau dapat mengisi relung

hatinya.

A : akankah relung dalam hatinya itu dapat ku penuhi seutuhnya?

B : karena hidup tidak hanya dilihat dari bagaimana engkau

mengatasi atau menyelesaikan masalah, tapi juga keberanian

mu untuk tetap melangkah setelah sesuatu itu diambil

sebagai jalannya.

A : kesadarankah maksudmu?

B : walau kau bertepuk sebelah tangan, itu jauh lebih baik dari

pada kau tidak memiliki apa pun.

A : mungkinkah itu?

B : asalkan kau tidak lupa ketika bahagia dan tidak merengek

ketika teringat kembali.

A : tawa dan tangis bukankah hal yang wajar?

B : seperti halnya dedaunnan, ia akan kembali tumbuh hijau

dalam kelembaban.

A : tetap sadar, biarkan ia buka relung hatinya dan kemudian

mengisinya dengan kefanaan.

B : akhirnya…!!

A : itu hanya masalah waktu. Waktu selalu berubah kearah yang

tidak kita tahu.







Tidak ada komentar: