05.09.2002
Ku kira, setadinya akan beres
Aku akan bernafas lega dan dapat nikmati waktu
Namun, aku tertipu oleh pikiranku sendiri
Aku tak akan bernafas lega sampai dua hari,
Atau bahkan sampai batas akhir waktu ku…
Namun, tak akan aku biarkan hal ini berlarut
Biarkan aku menebusnya, karena memang harus
Semampuku, sebisaku, secepatnya…
Biarkan aku hidup hingga terlepas beban ini
Setelah itu terserah…
Karena yang lain tak berarti bagi ku!
Tak ingin aku hangus di dunia ini
Tak ingin pula di alamku yang nanti
Ampuni aku….!!
Ampuni aku….!!
Ampuni aku….!!
20/11/2002
“apakah yang terjadi?”
Sepoi angin menjawab lembut:
“Ini adalah cinta”
“apakah kau cemburu?” tanya hatiku pada bulan
“jika aku cemburu, tak akan ku sampaikan salam rindumu padanya!” jawab bulan.
“apakah ini hanya mimpi semata?” lirih hati berkata.
air menjawab: “siramilah ia dengan kasih dan sayangmu tanpa jemu!”
kembali hatiku berujar: “apakah cinta ini akan abadi adanya?”
“jika senantiasa demikian, ia akan hidup dalam hatimu, selalu…” tanah menjawab.
28/04/03
Cerita apa lagi apa lagi yang akan kau kisahkan kepada ku?
hingga kau pun terlelap.
Aku begitu mencintaimu
ingin ku bawa dirimu kesuatu tempat didalam hatiku
dimana ketukusan cinta ku pada mu berasal,
agar kau ketahui segala rahasia didalamnya,
rahasia yang tak sanggup untuk aku ungkapkan.
Dirimu yang mempesona ku, dengan tatapanmu
kau telusuri lembah-lembah terdalam jiwaku
hancurkan tembok keangkuhan dan kau bawa
prasasti dari pelangi yang tak akan hilang oleh cahaya matahari
dan tak akan pudar oleh guyuran air hujan.
Engkau yang telah kuasai mimpi-mimpi ku
selusupi harapan di dalam anganku dengan kesenangan
memaksaku untuk regangkan sayap
agar aku dapat nikmati keindahan cinta mu
kelembutan kasih dan sayang mu
kau hantar aku pada kekuatan jiwaku
dan kau pun terbenam di peluk ku.
“anyer ku rindu”
Duduk termenung di pinggir pantai
Saksikan peristiwa awal hari yang mengagumkan
Aku rindukan dirimu…
Dengarkan debur ombak, yang sesekali diselingi keheningan
Aku rindukan hadirnya dirimu…
Menatap buih yang menyisir hamparan pasir
Lembut dan halus seperti hembusan angin seusai hujan
Aku rindukan kasih dirimu…
Ketika pandangan mata tidak lagi terhalang
Namun tidak ada yang dapat ku lihat
Kecuali warna – warna pekat cakrawala
Aku rindukan rona wajahmu…
Lukisan awan yang samar, selalu berganti detik ke detik
tajam ku pandangi, tuk mengupas satu persatu lapisanya
aku rindukan adanya dirimu…
28/04/2003
Apa yang dapat kita lakukan dan katakan
Kala kebenaran rasa dihati terungkap
Apakah kita akan menghindarinya?
Apakah kita akan mengakuinya?
Dan kita hanya terdiam tak ada kata terucap
Seakan hilang bersama mentari yang tenggelam
Kita pun hanyut dalam perasaan hati yang berombak.
Dan kita pun saling berpandangan
Berharap dapat samakan arti dan rasa
Lewat binar mata yang terpancar
Berharap temukan satu jawaban
Atas satu pertanyaan yang tidak tersampaikan
Dan kita berpegangan tangan, erat saling menggenggam
Seakan takut rasa ini akan segera hilang
Merasakan lembutnya getaran yang tercipta
Karena hati yang saling bersentuhan ini.
Dan kau biarkan aku,
Sandarkan kepala di atas pangkuanmu
Yang sangat membuatku tenang.
Dan aku pun biarkan kamu
Belai mesra wajah ini, agar tesapu semua peluh dalam hatiku
Dan kau biarkan aku
Untuk penuhi seluruh rongga dadaku
Dengan harum jemari tanganmu
Dan cium keningmu
25122005
Dari Anyer ke
Belahan jiwa
Yang tercinta kini telah datang
Cukup sempurna untuk ku yang tidak mempesona
Wajahnya bagaikan purnama yang jadikan malam tidak kentara, bercahaya layaknya mereka para penghuni surga
Berpakaian putih tanpa noda, seputih hatinya,
laksana mereka yang selalu sujud dan rukuk di hadapan-Nya.
Kata-kata yang keluar dari bibirnya begitu jauh dari makian dan kebencian, menyejukan hati, sirnakan emosi.
Merdu mendayu suaranya, endapkan kemunafikan
pertanda tinggi kemuliaan jiwanya.
Dengan menundukan kepala ia berjalan, seakan tak pernah ia menatap ke fanaan dunia tanpa kesadaran diri.
Seulas senyumannya, cermin kebijaksanaan.
layaknya senyuman putri yang dicintai dengan setia
oleh dayang-dayangnya.
Tatapan matanya berbinar terang
Seakan membendung air mata yang tercurah dari
Rasa sayang dalam lubuk hatinya.
Lekuk alisnya, menyimpan mimpi-mimpi
Tentang keindahan yang tak dapat di tiru dengan
Kuas seorang pelukis.
Rambutnya yang hitam keemasan, menambah
Keagungan mahkotanya sebagaimana bunga akan
Lebih terlihat indah ketika di hiasi cahaya fajar
Ketika berada di dekatnya, kekuatan lain membawaku
Kedunia khayal dan seketika itu pula aku luluh dalam
Ketentraman, terlepas dari seluruh penderitaan.
berganti hingga jauh berbeda
Aku kehilangan, aku mencarinya dan aku menemukannya kembali, lalu kehilangan lagi….
Begitu selanjutnya… seterusnya….
Berganti muka, berganti wajah
pakaian, sepatu, celana…
hingga jauh berbeda,
Lain cerita, lain pula makna
Begitu pula lakon yang di perankan
Tidak… itu tidak aku bahas,
tidak pula aku lihat
aku harus pahami, tidak dengarkan omong kosong
melainkan aku simpulkan
tidak untuk mencari baik buruk
karena tumbuh di baliknya kerdaguan
Cukuplah bagiku
Setelah sekian lama ini, kau buat hati ini bercahaya.
Bagai kilau bening embun pagi,
yang menari diatas dedaunan,
sambut mesra hanyatnya surya.
Engkaulah satu-satunya yang mampu
belai mesra kabut
Hingga tidak ada lagi hampa.
Sayap cinta telah ku miliki kini
Cukuplah bagiku cinta darimu,
Bunga cinta yang kau tanam, sangatlah memikat
Tak dapat lagi, untuk aku tumbuhkan bunga cinta yang lain.
13/02/2004

Tidak ada komentar:
Posting Komentar