Senin, 20 Oktober 2008

tempat sampah seorang laki-laki 'brengsek'.....

05.09.2002

Ku kira, setadinya akan beres

Aku akan bernafas lega dan dapat nikmati waktu

Namun, aku tertipu oleh pikiranku sendiri

Aku tak akan bernafas lega sampai dua hari, lima bulan, tiga tahun mendatang

Atau bahkan sampai batas akhir waktu ku…

Namun, tak akan aku biarkan hal ini berlarut

Biarkan aku menebusnya, karena memang harus

Semampuku, sebisaku, secepatnya…

Biarkan aku hidup hingga terlepas beban ini

Setelah itu terserah…

Karena yang lain tak berarti bagi ku!

Tak ingin aku hangus di dunia ini

Tak ingin pula di alamku yang nanti

Ampuni aku….!!

Ampuni aku….!!

Ampuni aku….!!







20/11/2002

bisik hati ku bertanya:

“apakah yang terjadi?”

Sepoi angin menjawab lembut:

“Ini adalah cinta”

“apakah kau cemburu?” tanya hatiku pada bulan

“jika aku cemburu, tak akan ku sampaikan salam rindumu padanya!” jawab bulan.

“apakah ini hanya mimpi semata?” lirih hati berkata.

air menjawab: “siramilah ia dengan kasih dan sayangmu tanpa jemu!”

kembali hatiku berujar: “apakah cinta ini akan abadi adanya?”

“jika senantiasa demikian, ia akan hidup dalam hatimu, selalu…” tanah menjawab.









28/04/03

Cerita apa lagi apa lagi yang akan kau kisahkan kepada ku?

kan ku dengar semua, meski sampai terngantuk atau

hingga kau pun terlelap.

Aku begitu mencintaimu

ingin ku bawa dirimu kesuatu tempat didalam hatiku

dimana ketukusan cinta ku pada mu berasal,

agar kau ketahui segala rahasia didalamnya,

rahasia yang tak sanggup untuk aku ungkapkan.

Dirimu yang mempesona ku, dengan tatapanmu

kau telusuri lembah-lembah terdalam jiwaku

hancurkan tembok keangkuhan dan kau bawa

prasasti dari pelangi yang tak akan hilang oleh cahaya matahari

dan tak akan pudar oleh guyuran air hujan.

Engkau yang telah kuasai mimpi-mimpi ku

selusupi harapan di dalam anganku dengan kesenangan

memaksaku untuk regangkan sayap

agar aku dapat nikmati keindahan cinta mu

kelembutan kasih dan sayang mu

kau hantar aku pada kekuatan jiwaku

dan kau pun terbenam di peluk ku.










“anyer ku rindu”

Duduk termenung di pinggir pantai

Saksikan peristiwa awal hari yang mengagumkan

Aku rindukan dirimu…

Dengarkan debur ombak, yang sesekali diselingi keheningan

Aku rindukan hadirnya dirimu…

Menatap buih yang menyisir hamparan pasir

Lembut dan halus seperti hembusan angin seusai hujan

Aku rindukan kasih dirimu…

Ketika pandangan mata tidak lagi terhalang

Namun tidak ada yang dapat ku lihat

Kecuali warna – warna pekat cakrawala

Aku rindukan rona wajahmu…

Lukisan awan yang samar, selalu berganti detik ke detik

tajam ku pandangi, tuk mengupas satu persatu lapisanya

aku rindukan adanya dirimu…

28/04/2003









Apa yang dapat kita lakukan dan katakan

Kala kebenaran rasa dihati terungkap

Apakah kita akan menghindarinya?

Apakah kita akan mengakuinya?

Dan kita hanya terdiam tak ada kata terucap

Seakan hilang bersama mentari yang tenggelam

Kita pun hanyut dalam perasaan hati yang berombak.

Dan kita pun saling berpandangan

Berharap dapat samakan arti dan rasa

Lewat binar mata yang terpancar

Berharap temukan satu jawaban

Atas satu pertanyaan yang tidak tersampaikan

Dan kita berpegangan tangan, erat saling menggenggam

Seakan takut rasa ini akan segera hilang

Merasakan lembutnya getaran yang tercipta

Karena hati yang saling bersentuhan ini.

Dan kau biarkan aku,

Sandarkan kepala di atas pangkuanmu

Yang sangat membuatku tenang.

Dan aku pun biarkan kamu

Belai mesra wajah ini, agar tesapu semua peluh dalam hatiku

Dan kau biarkan aku

Untuk penuhi seluruh rongga dadaku

Dengan harum jemari tanganmu

Dan cium keningmu


25122005

Dari Anyer ke Jakarta










Belahan jiwa

Yang tercinta kini telah datang

Cukup sempurna untuk ku yang tidak mempesona

Wajahnya bagaikan purnama yang jadikan malam tidak kentara, bercahaya layaknya mereka para penghuni surga

Berpakaian putih tanpa noda, seputih hatinya,

laksana mereka yang selalu sujud dan rukuk di hadapan-Nya.

Kata-kata yang keluar dari bibirnya begitu jauh dari makian dan kebencian, menyejukan hati, sirnakan emosi.

Merdu mendayu suaranya, endapkan kemunafikan

pertanda tinggi kemuliaan jiwanya.

Dengan menundukan kepala ia berjalan, seakan tak pernah ia menatap ke fanaan dunia tanpa kesadaran diri.

Seulas senyumannya, cermin kebijaksanaan.

layaknya senyuman putri yang dicintai dengan setia

oleh dayang-dayangnya.

Tatapan matanya berbinar terang

Seakan membendung air mata yang tercurah dari

Rasa sayang dalam lubuk hatinya.

Lekuk alisnya, menyimpan mimpi-mimpi

Tentang keindahan yang tak dapat di tiru dengan

Kuas seorang pelukis.

Rambutnya yang hitam keemasan, menambah

Keagungan mahkotanya sebagaimana bunga akan

Lebih terlihat indah ketika di hiasi cahaya fajar

Ketika berada di dekatnya, kekuatan lain membawaku

Kedunia khayal dan seketika itu pula aku luluh dalam

Ketentraman, terlepas dari seluruh penderitaan.






berganti hingga jauh berbeda

Aku kehilangan, aku mencarinya dan aku menemukannya kembali, lalu kehilangan lagi….

Begitu selanjutnya… seterusnya….

Berganti muka, berganti wajah

pakaian, sepatu, celana…

hingga jauh berbeda,

Lain cerita, lain pula makna

Begitu pula lakon yang di perankan

Tidak… itu tidak aku bahas,

tidak pula aku lihat

aku harus pahami, tidak dengarkan omong kosong

melainkan aku simpulkan

tidak untuk mencari baik buruk

karena tumbuh di baliknya kerdaguan

29/12/2002










Cukuplah bagiku

Setelah sekian lama ini, kau buat hati ini bercahaya.

Bagai kilau bening embun pagi,

yang menari diatas dedaunan,

sambut mesra hanyatnya surya.

Engkaulah satu-satunya yang mampu

belai mesra kabut asmara dalam jiwaku.

Hingga tidak ada lagi hampa.

Sayap cinta telah ku miliki kini

Cukuplah bagiku cinta darimu,

Bunga cinta yang kau tanam, sangatlah memikat

Tak dapat lagi, untuk aku tumbuhkan bunga cinta yang lain.

13/02/2004


Tidak ada komentar: