Kemarilah……!!!
Ikutlah dengan ku meski sulit
Peluk erat lengan ku karena kita akan segera pergi
Ke sebuah muara kita
Kau tanya
Terkadang aku lupa arah kala dipersimpangan
Selama kau di sisi ku, kita akan tetap besama
Peluk erat lengan ku…….
Karena kita akan segera pergi wahai sahabat hidupku
Untuk raih kebahagian di atas tanah yang tak rata ini
Maka kemarilah…!
Iringi langkah ku,
bersama kita telusuri, langkah tak berjejak ini
Luka cinta yang lalu adalah kebahagiaan
Bunga cinta yang lalu adalah luka dalam hati
Bahagia saat ini adalah rentetan tanda tanya yang dalam
Luka hati saat ini adalah rasa ingin tahu tanpa akhir
Hingga sampai pada luka cinta dan bunga cinta di hati
Ungkap semua tanda tanya, hingga akhir……
“ sebelum tidur”
Namun bila terdengar lagi suara mu
Jauh lebih mesra ketimbang cahaya rembulan
Yang daratkan kecupan hangat di pelupuk mata
Agar di pangkal mimpi mu kau tetap tenang di tengah ranjang
Atau bahkan, hingga embun itu menguap
“selamat beristirahat, biar aku yang tetap terjaga di luar lelapmu,
mimpikan sagala apa yang terjadi pada ku”
Tersiar kabar tentang kematiannya, diiringi fajar hari ini
Ia telah renggut nyawanya….
Siapa yang kira, tidak ada yang nyana
Tubuhnya belum renta, masih kuat tuk pikul cita-cita
Rambutnya belum memutih, masih banyak harapan yang ingin di raih
Tulang-tulang beluh regang, tersusun rapih bak kelopak bunga yang berseri
Kini ia telah pergi, ia kini milik angkasa
Dengan seulas senyuman wajah nya terlukis di
“Soulmate”
Yang tercinta kini telah datang
Cukup sempurna, untukku yang tidak mempesona
Wajahnya bagai purnama yang jadikan malam tak kentara
Bercahaya layaknya mereka para penghuni surga
Berpakaian putih tanpa noda, seputih hatinya
Laksana mereka yang selalu sujud dan rukuk dihadapan-Nya
Kata-kata yang terucap dari bibir beritu jauh dari makian dan kebencian
pertanda tinggi kemulianya sejukan hati, sirnakan emosi
Dengan menundukan ia berjalan, seperti tak mau
Ia menatap ke fanaan dunia ini tanpa kesadaran diri
Seulas senyumannya, cermin kebijakan hati
Layaknya senyuman puteri yang dicintai dengan setia oleh dayangnya
Tatapan matanya berbinar cemerlang
Seakan membendung air mata yang tercurah dari kasih dan sayang
Lekuk alisnya menyimpan mimpi-mimpi
Tentang keindahan yang tak dapat dilukisakan
oleh sang pelukis atau diukuir sang pemahat
rambutnya yang hitam keemasan, menambah keanggunannya
sebagaimana bunga akan lebih terlihat indah
laka dihiasi kilau embun dari cahaya sang fajar
ketika berada di dekatnya kekuatan lain seakan
membawa ku ke dunia khayal
seketika itu pula aku luluh dalam ketentraman
terlepas dari segala penderitaan
Maaf…
aku tidak memuji kecantikan parasmu
tapi aku memuji aura nan terpanjar diwajah mu
karena selalu berwudhu, bersembah sujud
kepada Allah SWT
Maaf…
Aku tak kagumi dirimu hanya karna jilbab yang kau kenakan
tapi lantaran niat dan keikhlasan mu untuk
menjaga kesucian dan kemurniaan hati mu
agar selalu mendapat ridho Allah SWT
“Omong kosong”
Aku kehilangan, aku mencarinya dan aku menemukannya
lalu kehilangan kembali…..
begitu selanjutnya… seterusnya….
Berganti muka, berganti wajah, pakaian,
sepatu dan celana hingga jauh berbeda
Lain cerita, lain makna
lain pula yang dilakonkan
Tidak itu tidak aku lihat
Tidak pula di bahas
Aku rasa, aku pahami
Tidak dengarkan omong kosong ini
Melainkan harus aku simpulkan
Bukan untuk menilai baik atau buruk
Karena ia tumbuh di balik keraguan
Sejak bayang mu bermukim di dada
aku tidak lsgi merasa sepi, meski hening
Dalam singgasana hati yang megah ini
walau tengah malam tak ada lagi sunyi
aku menjadi seorang yang haru gembira
sepanjang hari dalam gemilang bahagia
kau sulap gelap di jiwa menjadi terang benderang
kau ubah belantara hati ini menjadi taman penuh mawar
kau adalah matahari dalam awan kata-kata
bila sinarmu marak bercahaya
segala ungkapan cinta tertuju hanya untuk mu
adalah engkau yang berkuasa dalam cakrawala ini
Hati ku berbisik bertanya
“apakah yang terjadi?”
Sepoi angin menjawab lembut
“ini adalah cinta”
“apakah kau cemburu?” tanya hati ku pada bulan
“jika aku cemburu, tak akan ku sampaikan salam rindu mu kepadanya”
jawab bulan
“apakah ini hanya mimpi semata?” ucap hati lirih
Air menjawab “siramilah ia dengan kasih dan sayang mu tanpa jemu”
“apakah cinta ini akan tetap abadi?” lanjut hati ku
“jika senantiasa demikian, ia akan selalu hidup dalam hati mu” bumi menjawab
_________________________________________________________
Semoga keindahan berada di depan ku
Semoga keindahan berada di balakang ku
Semoga keindahan berada di atas ku
Semoga keindahan berada di bawah ku
Semoga keindahan berada di dalam hati ku
Semoga keindahan ada di sekeliling ku
Semoga keindahan lenyapkan aku
Semoga kehendak hati dan akal ku seiring sejalan
Ku kira setadinya akan beres
akan bernafas lega dan dapat nikmati waktu
Namun, aku tertipu oleh pikiran ku sendiri
aku tak akan benafas lega sampai dua hari, tiga bulan
atau bahkan empat tahun mendatang
Mungkin sampai batas akhir waktu ku…..
Tak akan ku biarkan hal ini berlanjut
Biarkan aku menebusnya, karena memang harus
Semampu ku, sebisa ku, secepatnya…..
Biarkan aku tetap hidup, hingga sampai terlepas beban ini
Setelah itu terserah…..
Karena yang lain tak berarti bagi ku
Tak ingin aku hangus di dunia ini
Tak ini pula aku hangus di alam yang nanti
Ampuni aku….!?
Ampuni aku….!?
Ampuni aku….!?
Ampuni aku….!?
Tidak berdaya guna
Kehampaan datang dan tak mau pergi
Yang lain datang menemaniku setiap waktu
berganti cerita, berganti laku
Namun tak dapat mengisi jiwa ini
Tak berdaya guna
Dalam sunyi diri ini alunkan senandung
kata-kata terucap tumbuhkan dusta
Angan melayang menyibak tirai rahasia
namun tetap berputar di pusara
Tidak berdaya guna
Lingkar mata tampak cekung
hitam kelam menyimpan bayang derita
Linang air mata hanya menambah nanar
tak berhenti walau berdiri terbalik
Tidak berdaya guna
Seulas senyum tanda bahagia
tutupi wajah pucat karena nelangsa
Tetap tidak berdaya guna
derap langkah tiada henti
menyusuri hari raga mencari
lorong-lorong gelap menantang angkasa
merintik sunyi menerjang murka angkara
hasrat hati hanya doa perisai hati
menjangkau pelangi yakin dan pasti
walau jurang membatasi prahara di lewati
