Kamis, 25 Desember 2008

brengsek 03

Kemarilah……!!!

Ikutlah dengan ku meski sulit

Peluk erat lengan ku karena kita akan segera pergi

Ke sebuah muara kita kan pergi

Kau tanya kan sesering mungkin tujuan itu

Terkadang aku lupa arah kala dipersimpangan

Selama kau di sisi ku, kita akan tetap besama

Peluk erat lengan ku…….

Karena kita akan segera pergi wahai sahabat hidupku

Untuk raih kebahagian di atas tanah yang tak rata ini

Maka kemarilah…!

Iringi langkah ku,

bersama kita telusuri, langkah tak berjejak ini

Luka cinta yang lalu adalah kebahagiaan

Bunga cinta yang lalu adalah luka dalam hati

Bahagia saat ini adalah rentetan tanda tanya yang dalam

Luka hati saat ini adalah rasa ingin tahu tanpa akhir

Hingga sampai pada luka cinta dan bunga cinta di hati

Ungkap semua tanda tanya, hingga akhir……

“ sebelum tidur”

Namun bila terdengar lagi suara mu

Jauh lebih mesra ketimbang cahaya rembulan

Yang daratkan kecupan hangat di pelupuk mata

Kan selalu ku rengkuh dirimu oleh serajut kata-kata lembut

Agar di pangkal mimpi mu kau tetap tenang di tengah ranjang

Atau bahkan, hingga embun itu menguap

“selamat beristirahat, biar aku yang tetap terjaga di luar lelapmu,

mimpikan sagala apa yang terjadi pada ku”

Tersiar kabar tentang kematiannya, diiringi fajar hari ini

Ia telah renggut nyawanya….

Siapa yang kira, tidak ada yang nyana

Tubuhnya belum renta, masih kuat tuk pikul cita-cita

Rambutnya belum memutih, masih banyak harapan yang ingin di raih

Tulang-tulang beluh regang, tersusun rapih bak kelopak bunga yang berseri

Kini ia telah pergi, ia kini milik angkasa

Dengan seulas senyuman wajah nya terlukis di sana

“Soulmate”

Yang tercinta kini telah datang

Cukup sempurna, untukku yang tidak mempesona

Wajahnya bagai purnama yang jadikan malam tak kentara

Bercahaya layaknya mereka para penghuni surga

Berpakaian putih tanpa noda, seputih hatinya

Laksana mereka yang selalu sujud dan rukuk dihadapan-Nya

Kata-kata yang terucap dari bibir beritu jauh dari makian dan kebencian

pertanda tinggi kemulianya sejukan hati, sirnakan emosi

Dengan menundukan ia berjalan, seperti tak mau

Ia menatap ke fanaan dunia ini tanpa kesadaran diri

Seulas senyumannya, cermin kebijakan hati

Layaknya senyuman puteri yang dicintai dengan setia oleh dayangnya

Tatapan matanya berbinar cemerlang

Seakan membendung air mata yang tercurah dari kasih dan sayang

Lekuk alisnya menyimpan mimpi-mimpi

Tentang keindahan yang tak dapat dilukisakan

oleh sang pelukis atau diukuir sang pemahat

rambutnya yang hitam keemasan, menambah keanggunannya

sebagaimana bunga akan lebih terlihat indah

laka dihiasi kilau embun dari cahaya sang fajar

ketika berada di dekatnya kekuatan lain seakan

membawa ku ke dunia khayal

seketika itu pula aku luluh dalam ketentraman

terlepas dari segala penderitaan

Maaf…

aku tidak memuji kecantikan parasmu

tapi aku memuji aura nan terpanjar diwajah mu

karena selalu berwudhu, bersembah sujud

kepada Allah SWT

Maaf…

Aku tak kagumi dirimu hanya karna jilbab yang kau kenakan

tapi lantaran niat dan keikhlasan mu untuk

menjaga kesucian dan kemurniaan hati mu

agar selalu mendapat ridho Allah SWT

“Omong kosong”

Aku kehilangan, aku mencarinya dan aku menemukannya

lalu kehilangan kembali…..

begitu selanjutnya… seterusnya….

Berganti muka, berganti wajah, pakaian,

sepatu dan celana hingga jauh berbeda

Lain cerita, lain makna

lain pula yang dilakonkan

Tidak itu tidak aku lihat

Tidak pula di bahas

Aku rasa, aku pahami

Tidak dengarkan omong kosong ini

Melainkan harus aku simpulkan

Bukan untuk menilai baik atau buruk

Karena ia tumbuh di balik keraguan

Sejak bayang mu bermukim di dada

aku tidak lsgi merasa sepi, meski hening

Dalam singgasana hati yang megah ini

walau tengah malam tak ada lagi sunyi

aku menjadi seorang yang haru gembira

sepanjang hari dalam gemilang bahagia

kau sulap gelap di jiwa menjadi terang benderang

kau ubah belantara hati ini menjadi taman penuh mawar

kau adalah matahari dalam awan kata-kata

bila sinarmu marak bercahaya

segala ungkapan cinta tertuju hanya untuk mu

adalah engkau yang berkuasa dalam cakrawala ini

Hati ku berbisik bertanya

“apakah yang terjadi?”

Sepoi angin menjawab lembut

“ini adalah cinta”

“apakah kau cemburu?” tanya hati ku pada bulan

“jika aku cemburu, tak akan ku sampaikan salam rindu mu kepadanya”

jawab bulan

“apakah ini hanya mimpi semata?” ucap hati lirih

Air menjawab “siramilah ia dengan kasih dan sayang mu tanpa jemu”

“apakah cinta ini akan tetap abadi?” lanjut hati ku

“jika senantiasa demikian, ia akan selalu hidup dalam hati mu” bumi menjawab

_________________________________________________________

Semoga keindahan berada di depan ku

Semoga keindahan berada di balakang ku

Semoga keindahan berada di atas ku

Semoga keindahan berada di bawah ku

Semoga keindahan berada di dalam hati ku

Semoga keindahan ada di sekeliling ku

Semoga keindahan lenyapkan aku

Semoga kehendak hati dan akal ku seiring sejalan

Ku kira setadinya akan beres

akan bernafas lega dan dapat nikmati waktu

Namun, aku tertipu oleh pikiran ku sendiri

aku tak akan benafas lega sampai dua hari, tiga bulan

atau bahkan empat tahun mendatang

Mungkin sampai batas akhir waktu ku…..

Tak akan ku biarkan hal ini berlanjut

Biarkan aku menebusnya, karena memang harus

Semampu ku, sebisa ku, secepatnya…..

Biarkan aku tetap hidup, hingga sampai terlepas beban ini

Setelah itu terserah…..

Karena yang lain tak berarti bagi ku

Tak ingin aku hangus di dunia ini

Tak ini pula aku hangus di alam yang nanti

Ampuni aku….!?

Ampuni aku….!?

Ampuni aku….!?

Ampuni aku….!?

Tidak berdaya guna

Kehampaan datang dan tak mau pergi

Yang lain datang menemaniku setiap waktu

berganti cerita, berganti laku

Namun tak dapat mengisi jiwa ini

Tak berdaya guna

Dalam sunyi diri ini alunkan senandung

kata-kata terucap tumbuhkan dusta

Angan melayang menyibak tirai rahasia

namun tetap berputar di pusara

Tidak berdaya guna

Lingkar mata tampak cekung

hitam kelam menyimpan bayang derita

Linang air mata hanya menambah nanar

tak berhenti walau berdiri terbalik

Tidak berdaya guna

Seulas senyum tanda bahagia

tutupi wajah pucat karena nelangsa

Tetap tidak berdaya guna

derap langkah tiada henti

menyusuri hari raga mencari

lorong-lorong gelap menantang angkasa

merintik sunyi menerjang murka angkara

hasrat hati hanya doa perisai hati

menjangkau pelangi yakin dan pasti

walau jurang membatasi prahara di lewati

Tidak ada komentar: