BAB
5
LAILA DAN MAJNUN
Kisah Laila dan Majnun diceritakan di Timur selama ribuan tahun dan selalu membawa
kekaguman besar, karena ini bukan sekedar sebuah kisah cinta, melainkan juga sebuah pelajaran
cinta. Bukan cinta sebagaimanaumumnya dipahami orang, tetapi cinta yang berada di atas bumi
dan langit.
Seorang pemuda bernama Majnun sejak kecil telah menunjukkan cinta dalam sifatnya,
mengungkapkan tragedi hidup kepada mata orang yang jeli. Ketika Majnun bersekolah, ia
menyukai Laila. Percikan api itu akhirnya menjadi api, dan Majnun merasa tidak tenang bila Laila
sedikit terlambat datang ke sekolah. Dengan buku di tangannya, Majnun mengarahkan matanya ke
pintu masuk, dan hal ini diketahui banyak orang. Api itu kemudian menjadi api besar dan kemudian
hati Laila menyala oleh cinta Majnun. Mereka saling berpandangan. Laila tak melihat seorang pun
di dalam kelas kecuali Majnun, demikian pula sebaliknya, Majnun hanya melihat Laila. Apabila
membaca buku mata Majnun hanya melihat nama Laila; dalam menulis ketika didikte guru, Laila
hanya menuliskan semua baris dengan nama Majnun. "Semua yang lain menghilang ketika
gagasan mengenai kekasih menguasai pikiran pecinta."
Semua murid yang lain di kelas saling berbisik sambil menunjuk kepada mereka berdua. Para guru
khawatir dan menulis kepada orang tua mereka bahwa anak-anak mereka mabuk cinta dan saling
menyukai, dan bahwa tampaknya tak ada cara untuk mengalihkan perhatian mereka dari urusan
cinta yang telah menghentikan setiap kemungkinan perkembangan dalam
belajar.
Orang tua Laila langsung melarang gadis itu pergi ke sekolah, dan mengawasinya secara ketat.
Dengan cara ini mereka menjauhkan Laila dari Majnun, tetapi siapa yang mampu menjauhkan
Majnun dari hati Laila? Ia tidak memikirkan apapun selain Majnun. Tanpa Laila, Majnun tidak
tenang dan menangis di dalam hatinya, semua orang di sekolah menjadi kacau, sampai orang
tuanya membawanya pulang dari sekolah, karena rupanya tak ada sesuatu yang tersisa baginya di
sekolah. Orang tua Majnun memanggil dokter, tabib, peramal, pesulap, dan mencurahkan uang di
kaki mereka sambil memohon agar Majnun dibebaskan dari memikirkan Laila. Tetapi apa yang
dapat mereka lakukan? "Lukman [tabib besar pada masa silam] sekalipun, tidak memiliki obat
untuk menyembuhkan sakit karena cinta."
Tak seorang pun mampu menyembuhkan pasien cinta. Teman-teman datang, para kerabat
datang, pemberi semangat datang, penasihat ahli datang; semua mencoba sebaik mungkin untuk
melenyapkan Laila dari pikiran Majnun, tetapi sia-sia. Seseorang datang dan berkata kepadanya,
"Hai Majnun, mengapa engkau sedih atas perpisahan dari Laila? Ia tidak cantik. Aku dapat
menunjukkan kepadamu seribu gadis yang lebih cantik dan lebih menarik, dan engkau dapat
memilih salah satu di antara mereka." Majnun menjawab "Untuk melihat kecantikan Laila,
diperlukan mata Majnun."
Ketika semua upaya tak tersisa untuk dilakukan, orang tua Majnun bermaksud mencari
perlindungan Ka'bah sebagai upaya terakhir. Mereka membawa Majnun berziarah ke Ka'bat-ullah.
Ketika mereka sampai ke dekat Ka'bah terjadi kerumunan besar untuk melihat mereka. Orang tua
itu mendekat ke Ka'bah dan berdoa, "Ya Allah, Engkau Mahapengasih dan Mahapenyayang, maka
ridhailah anak kami satu-satunya, agar hati Majnun terbebas dari derita cintanya kepada Laila."
Semua orang mendengarkan doa itu dengan penuh perhatian, dan ingin tahu apa yang akan
dikatakan Majnun. Kemudian orang tua itu berkata kepada Majnun, "Anakku, berdoalah agar
cintamu kepada Laila dilenyapkan dari hatimu." Majnun menjawab, "Apakah aku akan bertemu
dengan Laila bila aku berdoa?" Dengan sangat kecewa mereka menjawab, "Berdoalah, anakku,
apapun yang engkau kehendaki." Maka Majnun mendekat ke Ka'bah dan berkata, "Aku
menginginkan Laila," dan semua orang yang hadir berkata, "Amiin." "Dunia mengumandangkan
keinginan pecinta."
Setelah mencari segala cara untuk menyembuhkan Majnun dari kegilaannya terhadap Laila,
akhirnya mereka berpikir bahwa cara terbaik adalah mendekati kedua orang tua Laila, karena ini
merupakan harapan terakhir untuk menyelamatkan hidup Majnun. Mereka mengirim pesan kepada
orang tua Laila yang berlainan agama, "Kami telah melakukan semua yang kami bisa untuk
melepaskan Laila dari pikiran Majnun, tetapi sejauh ini tak berhasil, dan tak ada harapan untuk
berhasil kecuali satu hal, yaitu menikahkan Majnun dengan Laila." Mereka membalas dengan
berkata, "Meskipun hal ini akan membuat kami dibenci oleh orang-orang kami, tetapi rupanya Laila
tak dapat melupakan Majnun barang sesaat, dan sejak kami mengeluarkannya dari sekolah, ia
terus bersedih setiap hari. Karena itu kami tidak keberatan untuk menikahkan Laila dengan
Majnun, dengan satu syarat yaitu Majnun harus bertindak waras."
Mendengar itu, orang tua Majnun sangat bergembira dan minta kepada Majnun agar bersikap
wajar agar orang tua Laila tidak menyangka bahwa ia gila. Majnun setuju untuk melakukan apapun
yang dikehendaki orang tuanya asal diperbolehkan menemui Laila. Sesuai dengan adat Timur,
prosesi pernikahan dilakukan di rumah pengantin wanita, dan di sana tempat duduk khusus
disediakan bagi pengantin laki-laki yang ditutup dengan rangkaian bunga. Namun, seperti kata
orang Timur, Allah tidak suka kepada pesaing cinta, maka takdir tidak memberi kedua orang itu
kebahagiaan atas kebersamaan. Anjing yang biasanya mengikuti Laila ke sekolah, kebetulan
memasuki ruang tempat pasangan itu duduk. Ketika Majnun melihat anjing itu, emosinya meledak;
ia tidak dapat duduk di kursi tinggi sambil melihat anjing. Ia berlari kepada anjing itu, mencium
kakinya dan mengalungkan rangkaian bunga ke leher anjing itu. Terlihat jelas bahwa Majnun
memuja anjing itu. "Debu di tempat tinggal kekasih adalah tanahKa'bah bagi pecinta." Kelakuan itu
sepintas membuktikan bahwa ia gila.
Karena bahasa cinta itu sampah bagi orang tanpa cinta, maka perbuatan Majnun dipandang oleh
mereka yang hadir sebagai ketololan. Mereka semua sangat kecewa, orang tua Laila menolak
untuk menikahkan anaknya, dan Majnun dibawa kembali pulang.
Pernyataan kecewa itu membuat orang tua Majnun kehilangan harapan, dan mereka tidak lagi
mengawasinya karena melihat bahwa hidup atau mati, keduanya sama saja. Hal ini memberi
kebebasan kepada Majnun untuk berkelana ke kota mencari Laila, bertanya kepada setiap orang
untuk menunjukkan tempat Laila. Kebetulan ia bertemu dengan pengantar surat yang membawa
surat-surat di punggung unta. Ketika Majnun menyanyakan alamat Laila, orang itu menjawab,
"Orang tuanya telah meninggalkan negeri ini dan sekarang tinggal seratus mil dari sini." Majnun
memohon kepadanya untuk menyampaikan pesan kepada, dan dijawab, "Dengan senang hati."
Namun ketika Majnun mengucapkan pesan itu, ia perlu waktu yang amat sangat lama. "Pesan
cinta tidak mengenal akhir."
Pengantar surat itu separo menertawakan dan separo bersimpati kepada ketulusan cintanya.
Meskipun Majnun yang berjalan bersama untanya, merupakan teman baginya dalam perjalanan
panjang, tetapi karena kasihan, ia berkata, "Engkau telah berjalan sepuluh mil dengan
menyampaikan pesanmu itu kepadaku; berapa jauh yang harus kutempuh untuk
menyampaikannya kepada Laila? Kini pergilah, aku akan menyampaikannya." Kemudian Majnun
berjalan kembali, tetapi sebelum berjalan seratus meter, ia berputar balik dan berseru, "Hai
kawanku yang baik, aku lupa mengatakan beberapa hal yang engkau dapat menyampaikannya
kepada Laila." Ketika pesan itu disampaikan, ia telah menempuh sepuluh mil lagi. Pengantar surat
itu berkata, "Aku kasihan kepadamu, kembalilah, engkau telah berjalan sangat jauh. Bagaimana
aku dapat mengingat semua pesan yang engkau sampaikan? Bagaimana pun, aku akan berusaha
sebaik-baiknya. Kini kembalilah, engkau sudah sangat jauh dari rumahmu." Majnun berjalan balik
beberapa meter, dan lagi-lagi ia kembali ingat sesuatu untuk disampaikan kepada pembawa
pesan, lalu mengejarnya. Begitu seterusnya hingga ia sendiri tiba di tempat yang dituju.
Pengantar surat itu kagum kepada cinta yang tulus, dan berkata, "Engkau telah tiba di tanah
tempat Laila tinggal. Kini tinggallah di masjid runtuh ini. Ini masih luar kota. Bila engkau pergi
bersamaku ke kota mereka akan menyiksamu sebelum engkau bertemu Laila. Sebaiknya engkau
beristirahat di sini sekarang, karena engkau telah berjalan jauh, dan aku akan menyampaikan
pesanmu kepada Laila ketika bertemu dengannya." "Orang yang mabuk cinta tak mengenal waktu
atau ruang."
Majnun patuh, dan ingin beristirahat, tetapi gagasan bahwa ia berada di kota tempat tinggal Laila
membuatnya bertanya-tanya ke arah mana ia meregangkan kakinya: utara, selatan, timur, barat,
dan berpikir, "Andai Laila berada di sisi ini, aku akan tidak sopan bila meregangkan kakiku ke arah
sana. Maka sebaiknya aku menggantung kaki dengan tali dari atas, karena pasti ia tidak di sana."
"Ka'bah seorang pecinta adalah tempat tinggal kekasihnya." Ia merasa haus, dan tak dapat
memperoleh air kecuali air hujan yang terkumpul di dalam bak yang tak digunakan.
Ketika pengantar surat memasuki rumah Laila, ia melihat dan berkata kepada Laila, "Aku harus
bersusah payah untuk dapat berbicara kepadamu. Pecintamu, Majnun, seorang pecinta yang tiada
bandingannya di dunia, mengirimkan pesan untukmu, dan ia terus berbicara di sepanjang
perjalanan dan ia berjalan kaki sejauh kota ini." Laila berkata, "Demi langit, kasihan Majnun! Apa
jadinya dia." Ia bertanya kepada perawat tuanya, "Bagaimana seorang yang berjalan seratus mil
tanpa berhenti?" Perawat itu berkata, "Orang itu pasti mati." Laila berkata, "Apakah ada obatnya?"
Dijawab, "Ia harus minum air hujan yang terkumpul selama setahun dan sudah diminum ular.
Kemudian kakinya harus diikat dan digantung di udara dengan kepala di bawah dalam waktu yang
lama. Ini mungkin menyelamatkan nyawanya." Laila berkata, "Oh, tetapi betapa sulit
mendapatkannya!" Allah, yang Dia sendiri adalah cinta, adalah pembimbing Majnun, dan karena
itu semua yang datang kepada Majnun adalah yang terbaik baginya. "Sesungguhnya cinta adalah
penyembuh dari lukanya sendiri."
Pagi harinya Laila menyisihkan makanannya, dan mengirimkannya secara sembunyi-sembunyi
melalui pelayan yang dipercaya, bersama dengan pesan untuk Majnun bahwa Laila rindu untuk
bertemu dengannya sebesar Majnun merindukannya, yang berbeda hanya rantai yang mengikat.
Segera setelah ia memperoleh kesempatan, ia akan datang seketika.
Pelayan itu pergi ke masjid runtuh dan melihat dua orang duduk di sana, yang satu tak peduli
dengan sekelilingnya, yang lain orang gendut dan besar. Ia berpikir, Laila tidak mungkin mencintai
seorang pemimpi karena ia sendiri tak tertarik. Namun untuk meyakinkan, ia bertanya, siapa yang
bernama Majnun. Majnun tenggelam dalam pikirannya sendiri dan jauh dari perkataan itu, tetapi
lelaki yang lain, yang kelelahan bekerja, sangat senang melihat keranjang makanan di tangan
pelayan itu, dan berkata, "Siapa yang kau cari?" Dijawab, "Aku disuruh memberikan makanan ini
kepada Majnun. Apakah anda Majnun?" Ia menjulurkan tangannya untuk menerima keranjang itu
dan berkata, "Akulah yang engkau cari," dan bercanda dengan pelayan itu, dan pelayan itu
senang.
Ketika pelayan itu kembali, Laila bertanya, "Apakah engkau berikan makanan itu kepadanya?"
Dijawab, "Ya, aku memberikannya." Kemudian setiap hari Laila mengirim porsi yang lebih besar
dari makanannya kepada Majnun, yang diterima dengan sukacita oleh lelaki gendut itu ketika
istirahat dari kerja. Suatu hari Laila bertanya kepada pelayannya, "Engkau tak pernah bercerita
apa yang dikatakannya dan bagaimana ia makan." Dijawab, "Ia berkata bahwa ia sangat berterima
kasih dan sangat menghargai pemberian itu. Bicaranya sangat menyenangkan. Anda tak perlu
khawatir, ia menjadi semakin gendut setiap hari." Laila berkata, "Tetapi Majnun-ku tak pernah
gendut, ia tak bisa gemuk, dan ia berpikir terlalu dalam untuk bisa berkata yang manis kepada
orang lain. Ia terlalu sedih untuk berkata." Seketika Laila curiga bahwa makanannya telah
diberikan kepada orang lain. ia berkata, "Adakah orang lain di sana?" Pelayan menjawab, "Ya, ada
satu orang lain yang duduk di sana, tetapi ia tampaknya berada di dalam dirinya sendiri. Ia tak
pernah memperhatikan siapa yang datang dan pergi, dan ia tidak mendengarkan orang lain. Tidak
mungkin ia adalah orang yang anda cintai." Laila berkata, "Kupikir dialah orangnya. Sayang,
selama ini engkau memberikan makanan itu kepada orang lain! Baiklah, untuk meyakinkan, hari ini
aku akan meletakkan pisau di atas piring, bukan makanan, dan katakan kepada orang yang kau
beri makanan, 'Laila memerlukan beberapa tetes darahmu untuk menyembuhkan penyakitnya.'"
Seperti biasa, ketika pelayan itu datang, lelaki gendut itu menyambut dengan gembira untuk
mengambil makanannya, tetapi ia terkejut ketika melihat pisau, bukan makanan. Pelayan berkata
bahwa beberapa tetes darah Majnun diperlukan untuk menyembuhkan penyakit Laila. Lelaki itu
berkata, "Bukan, aku bukan Majnun. Dialah Majnun. Mintalah kepadanya." Dengan lugu pelayan
itu datang kepadanya dan berkata keras, "Laila membutuhkan beberapa tetes darahmu untuk
mengobatinya." Majnun segera mengambil pisau itu dan berkata, "Betapa beruntungnya aku
bahwa darahku bermanfaat bagi Laila. Ini tak berarti apa-apa, bahkan hidupku pun akan
kukorbankan untuk menyembuhkannya, aku akan merasa beruntung dalam memberikannya."
"Apapun yang dilakukan pecinta bagi kekasihnya, itu tak pernah terlalu besar." Ia menusuk
tangannya di beberapa tempat, tetapi, kelaparan berbulan-bulan telah menghabiskan darahnya,
yang tersisa hanya kulit dan tulang. Ketika banyak tempat sudah ditusuk, dengan susah payah
setetes darah dapat keluar. Ia berkata, "Itulah yang tersisa. Ambillah." "Cinta berarti penderitaan,
tetapi pecinta sendiri berada di atas semua penderitaan."
Kedatangan Majnun lama-lama diketahui banyak orang, dan ketika orang tua Laila tahu, mereka
berpikir, "Tentu Laila akan kehilangan pikiran bila ia mencari Majnun." Maka mereka memutuskan
untuk pindah ke luar kota untuk beberapa lama, mengira bahwa Majnun akan pulang ketika tidak
menjumpai Laila tak ada di tempatnya. Sebelum berangkat, Laila mengirim pesan kepada Majnun,
"Kami ke luar kota untuk sementara waktu, dan aku sangat sedih tak dapat menjumpaimu. Satusatunya kesempatan bertemu adalah bila kita bertemu di tengah perjalanan, bila engkau berangkat
terlebih dulu dan menungguku di [gurun] Sahara."
Majnun dengan senang hati berangkat ke Sahara, dengan harapan besar untuk bertemu dengan
Laila sekali lagi. Ketika rombongan tiba di gurun dan berhenti sejenak di sana, pikiran orang tua
Laila sedikit lega, dan mereka melihat bahwa Laila juga lebih bahagia atas perubahan itu,
sebagaimana mereka kira, tanpa mengetahui alasan sebenarnya.
Laila pergi berjalan-jalan di Sahara dengan wanita pelayannya, dan tiba-tiba datanglah Majnun,
yang matanya telah lama mengawasi kedatangannya. Laila datang dan berkata, "Majnun, aku di
sini." Tiada daya di dalam lidah Majnun untuk mengungkapkan kegembiraannya. Ia memegang
tangan Laila dan merapatkannya ke dadanya, sambil berkata, "Laila, engkau tak akan
meninggalkan aku lagi?" Dijawab, "Majnun, aku hanya dapat datang sebentar. Jika aku di sini lebih
lama, orang-orangku akan mencariku dan hidupmu tidak aman." Majnun berkata, "Aku tak peduli
dengan hidupku. Engkaulah hidupku, tinggallah, jangan tinggalkan aku lagi." Laila berkata,
"Majnun, percayalah, aku pasti akan kembali." Majnun melepaskan tangan Laila dan berkata,
"Tentu, aku percaya padamu." Maka Laila meninggalkan Majnun dengan berat hati, dan Majnun
yang telah begitu lama hidup di atas daging dan darahnya sendiri, tak dapat lagi berdiri tegak; ia
jatuh ke belakang menimpa sebatang pohon yang kemudian menopangnya, dan ia tetap di sana,
hidup hanya di atas harapan.
Tahun-tahun berlalu tubuh Majnun yang telah setengah mati terkena pengaruh panas, dingin,
hujan, salju dan badai. Tangan yang memegangi cabang pohon menjadi cabang itu sendiri,
tubuhnya menjadi bagian dari pohon. Laila tak merasa senang dalam perjalanan, dan orang
tuanya kehilangan harapan akan hidupnya. Laila hanya hidup atas satu harapan, agar ia dapat
memenuhi janjinya kepada Majnun ketika berpisah dan berkata, "Aku akan kembali." Ia bertanyatanya apakah Majnun hidup atau mati, at untuk pergi, atau apakah telah dibawa pergi hewan
Sahara.
Ketika mereka kembali, mereka berhenti di tempat yang sama. Hati Laila penuh dengan
kegembiraan dan kesedihan, harapan dan kekhawatiran. Ketika ia mencari tempat yang dulu, ia
bertemu seorang penebang kayu yang berkata kepadanya, "Hai, jangan pergi ke sana. Ada hantu
di sana." Laila berkata, "Seperti apa?" Dijawab, "Sebuah pohon, tetapi juga seorang manusia, dan
ketika aku menebang sebuah cabang pohon itu dengan kapakku, aku mendengar ia berkata
dengan rintihan yang dalam, 'O Laila.'"
Mendengar ini membuat Laila terharu tak terperikan. Ia berkata bahwa ia akan ke sana, dan ketika
telah dekat ia melihat Majnun telah hampir berubah menjadi pohon. Daging dan darahnya telah
sirna, hanya kulit dan tulang yang tersisa. Cara kontaknya dengan pohon membuat ia mirip
dengan cabang pohon. Laila memanggilnya keras-keras, "Majnun!" Dijawab, "Laila!" Ia berkata,
"Aku datang seperti yang kujanjikan, hai Majnun." Majnun menjawab, "Aku Laila." Laila berkata,
"Majnun, pakailah akalmu. Aku-lah Laila. Lihatlah aku." Majnun berkata, "Apakah engkau Laila?
Kalau begitu, aku bukan," dan ia meninggal. Melihat kesempurnaan cinta ini, Laila tak dapat hidup
lagi barang sesaat. Ia meneriakkan nama Majnun kemudian jatuh dan mati.
"Sang kekasih adalah semua dalam semua, pecinta hanya menutupinya. Kekasih adalah semua
yang hidup, dan pecinta adalah benda mati."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar