Jumat, 17 September 2010

CINTA MANUSIA DAN CINTA ILAHI BAB II

BAB 2

SHIRIN DAN FARHAD

Cinta tak pernah tergoda oleh harta dan derajat. Shirin, puteri seorang

miskin tetapi kaya akan idealisme, diculik dan dibawa kepada Raja Faras,

yang seketika tergila-gila kepadanya, dan memberi hadiah besar kepada

orang yang membawanya. Namun raja itu sangat kecewa karena Shirin tidak

menanggapi cintanya; idealisme gadis itu terlalu tinggi untuk dapat

dibujuk dengan kekayaan dan kebesaran Raja. Raja melakukan semua hal

untuk menyenangkannya dan agar mau menikah dengannya, tetapi setiap

upaya berakibat sebaliknya.

Ketika Shirin melihat bahwa tak ada harapan untuk lepas dari istana yang baginya hanyalah
sebuah sangkar, dan kenekadan raja dan pembantu-pembantunya telah sangat menipiskan
kesabarannya, ia terpaksa menerima tawaran mereka, tetapi dengan satu syarat, yaitu sebuah
kanal harus dibuat sebagai monumen memorial atas peristiwa itu. Tentu saja ini merupakan siasat
untuk membatalkan pernikahan, karena pembuatan kanal itu memerlukan waktu bertahun-tahun.
Raja begitu tergila-gila oleh kecantikannya hingga ia lalai dalam menangkap isyarat halus itu, dan
seketika memberi perintah kepada para arsitek dan insinyur untuk mulai bekerja secepatnya, dan
menyelesaikannya sesegera mungkin, tidak peduli berapa biaya dan tenaga yang diperlukan.
Ribuan pekerja segera terlibat dalam proyek itu, dan pekerjaan berlangsung siang-malam tanpa
henti, di bawah pengawasan langsung raja itu sendiri dan pelayan-pelayannya.

Makin dekat ke penyelesaian pekerjaan, makin besar harapan sang raja, dan dengan gembira ia
minta kepada Shirin untuk pergi melihat kanal itu. Dengan hati sedih, Shirin pergi ke kanal,
khawatir kalau-kalau pekerjaan itu segera selesai dan ia harus menyerah kepada kehendak Raja,
suatu hal yang dinilainya lebih buruk daripada kematian. Ketika berjalan melihat proses pekerjaan
di mana ribuan orang bekerja siang dan malam, ia sangat terkejut melihat seorang pekerja datang
kepadanya; karena terpesona oleh kecantikannya, tanpa takut ia berseru, "Hai Shirin, aku cinta
padamu." "Cinta mengabaikan perbedaan derajat antara pecinta dan kekasihnya, dan
mengabaikan ketinggian yang harus didaki seorang pecinta."

Suara cinta dan perkataan kebaktian seperti itulah yang dicari-cari oleh Shirin, dan belum
dijumpainya sebelumnya. Shirin menjawab, "Kalau engkau mencintaiku, pecahlah gunung ini dan
buatlah terowongan menembus gunung ini. Emas perlu diuji sebelum diterima." Farhad langsung
berkata, "Dengan senang hati akan kulakukan, Shirin, apapun yang engkau kehendaki. Tak ada
sesuatu yang terlalu berat bagi seorang pecinta untuk melakukan sesuatu demi kekasihnya."

Farhad berjalan dengan sepenuh hati, tanpa bertanya mengapa ia harus membuat terowongan,
tidak berpikir seberapa banyakpekerjaan yang harus dilakukan. Ia tidak berpikir berapa lama akan
selesai, tidak pula berpikir bahwa pekerjaannya akan sia-sia. Ia pergi ke gunung dan mulai
memecah batu dengan kampaknya. Ia menyebut-nyebut nama Shirin setiap kali ia mengayunkan
kampaknya. Setiap ayunan tangan Farhad mengukir sebuah mukjizat. Setiap ayunan, hasilnya
seperti hasil kerja seratus ayunan kampak. "Daya manusia adalah kekuatan tubuhnya, tetapi daya
cinta adalah keperkasaan Allah.": Tak perlu waktu lama bagi Farhad untuk menyelesaikan


pekerjaannya, pekerjaan yang normalnya memerlukan waktu bertahun-tahun dan ribuan pekerja,
diselesaikannya dalam beberapa hari seorang diri.

Shirin menolak Raja sejak ia melihat Farhad, dan berkata, "Ada pecinta lain yang sedang
menjalani ujian, dan sebelum aku tahu hasil ujian itu, sebaiknya kita tidak menikah dulu."

Mata-mata Raja mengawasi Farhad dari kejauhan, dan mereka segera mengirim berita bahwa
Farhad telah menyelesaikan pekerjaannya sebelum kanal selesai dibuat. Raja begitu gusar,
berpikir bahwa Farhad mungkin akan mendapatkan cinta Shirin, dan dengan demikian Shirin
bukan menjadi miliknya lagi. Setelah berunding, seorang penasihatnya berkata, "Yang Mulia, anda
adalah raja, dan Farhad hanya seorang pekerja. Mana bisa langit dibandingkan dengan bumi? Aku
akan pergi ke sana, dan bila Yang Mulia menghendaki, aku akan mengakhiri Fathad dalam
sekejap." "Oh, jangan. Shirin akan melihat noda darah padaku, dan ini akan membuatnya
menjauhiku selamanya." Seorang pembantu raja berkata, "Itu tidak sulit bagiku, Yang Mulia,
mengakhiri hidup Farhad tak perlu dengan meneteskan darah." "Baiklah, kalau begitu," kata Raja.

Pelayan raja itu pergi kepada Farhad, yang hampir menyelesaikan pekerjaannya dengan
bayangan Shirin yang memberi harapan. "Kebahagiaan seorang pecinta terletak di dalam
kebahagiaan kekasihnya." Pelayan raja berkata, "Hai Farhad, sayang, semuanya sia-sia! Hai
pesaing bulan, kekasihmu Shirin telah meninggal secara tiba-tiba." Farhad berkata dalam
kepanikan, "Apa? Shirinku meninggal?" "Ya," kata pelayan itu, "Hai Farhad, sayang sekali Shirin
telah tiada." Farhad mengeluh dalam, dan jatuh ke tanah. "Shirin..." itulah perkataannya yang
terakhir, dan ia berlalu dari kehidupan ini.

Shirin mendengar dari orang-orang yang bersimpati kepadanya bahwa Farhad telah melakukan
keajaiban dengan membuat terowongan dalam gunung sambil menyebut 'Shirin' dalam setiap
ayunan kampaknya, dan telah menyelesaikan pekerjaan yang normalnya perlu waktu yang sangat
lama, dalam waktu singkat. Shirin, yang hatinya telah tertambat pada Farhad, dan yang melalui
jiwanya cinta Farhad terkoyak, tak memiliki lagi sisa kesabaran barang sedetik, maka ia berangkat
ke gunung pada kesempatan pertama. "Dua daya yang lebih tinggi memisahkan dua hati yang
bersatu." Shirin, yang bernasib baik dapat memiliki pecinta seperti Farhad, tak bernasib cukup baik
untuk dapat melihatnya kembali.

Ketika Shirin menemukan jasad Farhad tergeletak di dekat karya mengagumkan yang baru saja
diselesaikan baginya, ia merasa sangat tertekan dan kecewa. Mata-mata Raja datang mendekat
untuk meyakinkan Shirin bahwa Farhad telah mati, berharap bahwa karena kini Farhad telah tiada,
Shirin akan berketetapan hati pada Raja. Mereka berkata, "Farhad yang malang. Sayang, ia telah
mati." Shirin mendengar dari tiupan angin, dari aliran air, dari batu-batu, dari pohon-pohon, suara
Farhad memanggil, "Shirin, Shirin." Seluruh suasana di tempat itu menarik jiwa Shirin dengan
magnetisme cinta yang diciptakan Farhad di sekelilingnya. Ia jatuh ke tanah, terpukul dan merasa
sangat kehilangan hingga hatinya tak tahan lagi, berseru, "Farhad, aku datang untuk bisa
bersamamu." Takdir seorang pecinta adalah kekecewaan besar di mata dunia, tetapi ia merupakan
kepuasan tertinggi di mata orang-orang bijak.

Orang-orang yang bersifat menyerasikan, mencintai satu sama lain. Mungkin sifat-sifat tubuh-lah
yang menyerasikan kualitas mental, kualitas jiwa. Daya tarik fisik hanya berumur pendek, daya
tarik emosional berumur agak lama, dan daya tarik spiritual bertahan selamanya.

Cinta yang hanya sedikit diucapkan dapat menyalakan hati lain, cinta yang lebih banyak diucapkan
akan menghantuinya, tetapi bila terlalu banyak diucapkan akan menjauhkan obyek cinta.

Hubungan menghasilkan teman, meskipun tak ada hubungan atau persahabatan duniawi yang
abadi. Dengan berkumpul, duduk bersama, makan bersama, menghirup udara yang sama, hati


akan mendekat. Dua batubara yang menyala, bila didekatkan akan membuat satu api. Api itu
menyatukan keduanya. Bila dua tangan bergandengan, suatu arus listrik mengalir dari satu tangan
ke tangan yang lain. Inilah alasan orang berjabat tangan, agar api kedua orang bertemu. Karena
itu orang berkecenderungan untuk bertepuk tangan, melipat tangan dan menyilangkan kaki ketika
duduk atau berbaring, karena memberi mereka kenyamanan. Inilah yang menyebabkan adanya
kemiripan yang ada pada orang-orang dalam satu bangsa atau suatu ras.

Cinta cenderung menghasilkan kualitas, bahkan kemiripan, antara pecinta dan yang dicintai.
Seringkali kita melihat sahabat, suami-isteri, sepasang kekasih, mursyid dan murid, pada saatnya
menjadi mirip. Potret berbagai Syekh pada aliran Chistiyah semuanya seolah-olah mereka itu
dibuat dalam cetakan yang sama. Seseorang yang pergi jauh dari negerinya dan hidup lama di
negeri lain, menjadi akrab dengan negara itu, menyukainya, dan kadang-kadang tak ingin pulang
ke negerinya sendiri, disebabkan oleh cinta yang terbentuk oleh pergaulan.

Pertemuan itu menyulut cinta, dan perpisahan membuyarkan cinta. Makin jauh obyek cinta dari
jangkauan pecintanya, makin lebar bentangan yang ada bagi perluasan cinta. Karena itu cinta
terhadap obyek yang tak dapat diperoleh memiliki kemungkinan untuk berkembang, sedangkan
bila obyek cinta berada dalam jangkauan hal ini sering membatasi cinta. Bila perpisahan
berlangsung pendek, cinta akan bertambah, tetapi bila terlalu lama, cinta itu mati. Bila pertemuan
hanya sebentar, cinta akan tersulut, tetapi sulit untuk mempertahankan apinya. Bila pertemuan
berlangsung lama, cinta tak banyak terpengaruh, tetapi berakar hingga tumbuh, berkembang dan
berlangsung lama. Dalam ketidakhadiran kekasih, harapan merupakan minyak yang membuat api
cinta menyala. Pertemuan dan perpisahan pada gilirannya akan membuat api cinta menggelora.
Terlalu lama bertemu akan mengecilkan api cinta, dan terlalu lama berpisah akan mematikan api
karena kehabisan minyak.

Kita mungkin tinggal setahun di sebuah kota, dan mungkin kita mengenal dan menyukai orang-
orang di sana, dan mereka pun sangat menyukai kita, hingga cinta bertambah dan kita berpikir,
"Andai kita dapat terus tinggal di sana!" Ketika kita pergi, selalu terasa berat untuk berpisah dari
mereka. Kemudian kita pergi, kawan-kawan kita menulis surat dan kita menjawabnya, mula-mula
tiap hari, kemudian tiap minggu, kemudian tiap bulan, dan frekuensinya terus berkurang hingga
hanya tiap Hari Raya saja, karena kita tumbuh terpisah dan hanya sedikit urusan dengan mereka
dan lebih banyak berurusan dengan orang-orang yang kini berada di sekeliling kita. Bila kita
kembali ke tempat yang sama setelah lima atau enam tahun, mula-mula kita merasakan bahwa
iklimnya asing bagi kita, jalan-jalan dan rumah-rumah tampak asing, dan tak ada lagi kehangatan
yang dulu ada. Bila kita bodoh, kita akan menyalahkan kawan-kawan. Bila kita tahu, kita pun akan
menyalahkan diri sendiri. Kebersamaan-lah yang meningkatkan cinta dan perpisahan-lah yang
mengikis cinta, demikian pula dengan keterikatan kita pada tempat-tempat.

Tidak ada komentar: